PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al quran
merupakan mukjizat dari Nabi Muhammad Saw. Yang menjadi pedoman dalam
melaksanakan kehidupan manusia sampai dengan akhir zaman. Berperan penting
dalam menciptakan struktur masyarakat yang sejahtera, aman, damai, dan sentosa
ketika hukum yang terdapat didalamnya dijadikan dasar dalam menetapkan berbagai
perkara kehidupan. Dalam dunia medis, Al quran menunjukkan keutamaannnya bagi
siapa saja yang membaca, memahami, dan menerapkan perintah yang ada, sebagai buktinya,
ketika seseorang membaca al quran diwaktu pagi (subuh) maupun setelah petang
(maghrib), maka kecerdasan dan atau ketajaman otak akan meningkat, dan pada
saat melafalkan huruf-hurufnya-pun membuat pernafasan menjadi teratur dan pada
akhirnya hati-pun merasa tenteram, sehingga jiwa dan raga menjadi fresh bagaikan
telah di-service. Namun, tak mengindahkan bahwa Bahasa yang terdapat di
dalam al quran adalah Bahasa asing (Arab), oleh karena itu, dalam membaca al
quran harus mempunyai pengetahuan yang menjadi dasar dalam melafalkannya, atau
biasa disebut dengan ilmu tajwid.
B. Rumusan Masalah
Apa dan Bagaimanakah hukum mim bersukun dalam ilmu
tajwid?
PEMBAHASAN
Hukum mim bersukun ialah tiga
hukum yang muncul tatkala mim bersukun menhadapi huruf hija-iyyah.
Tiga hukum tersebut adalah[1]:
1.
Ikhfa’ Syafawi (الاخفاء
الشفوي)
2.
Idgham Mimi (الادغام
الميمي)
3.
Izh-har Syafawi (الاظهار
الشفوي)
Dijelaskan dalam nazham:
احكامها ثلاثة لمنضبط # اخفاء ادغام واظهار
فقط
Hukum (mim bersukun) menurut para ulama hanya terbagi atas tiga: Ikhfa
(Syafawi), Idgham (Mimi), dan Izh-har (Syafawi).
1
Ikhfa’ Syfawi
Ikhfa berarti samar, Syafawi berarti bibir. Ikhfa
Syafawi hanya terjadi jika memenuhi syarat sebagai berikut:
ان
تقع اباء بعد الميم الساكنة. ان يكون من كلمتين. وجود الغنةز
Pertama:
apabila huruf ba’(ب) berada setelah mim (م) yang bersukun. Kedua: terjadi
diantara dua kata. Dan ketiga: terjadinya proses ghunnah.
Berdasarkan
penjelasan ini, kita mengetahui bahwa huruf Ikhfa’ Syafawi hanya ada
satu, yaitu huruf ba’ (ب). Dinamakan Syafawii, karena
hukum Ikhfa’ terjadi pada huruf yang keluar dari asy-Syafatain (dua
bibir), sehingga pengucapannya pun lebih mengutamakan bibir. Cara membaca Ikhfa’
Syafawi ialah dengan suara yang samar antara mim dan ba’ pada
bibir, kemudian ditahan kira-kira dua ketukan seraya mengeluarkan suara Ikhfa’
dari pangkal hidung, bukan dari mulut. Contoh:
|
Hukum Ikhfa’ Syafawi |
Contoh |
Dibaca |
Q.S. |
|
ب |
هم
بمؤمنين |
hum
bi mu’minin |
2:8 |
|
ترمهم
بحجارة |
Tarmihimm bi hijaratin |
105:4 |
|
|
فحكم
بينكم |
Fahkumm bainahum |
5:4 |
2
Idgham Mimi
Idgham Mimi disebut juga Idgham Mutamatsilain, dinamakan Idgam
Mimi karena dalam proses Idgham-nya huruf mim dimasukkan
kepada huruf mim pula. Dan disebut Mutamatsilain karena huruf
yang berhadapan sama, baik makhraj maupun sifatnya.
Adapun pengertian Idgham Mimi ialah:
دمج
الميم الاولى فى الميم اثانية: بحيث يصيران ميما واحدة مشددة تشديدا ناقصا لوجود
اغنةز
Memasukkan
mim pertama ke mim kedua, sehingga kedua mim tersebut
menjadi datu mim yang bertasydid, dengan tasydid yang agak lemah untuk
mewujudkan ghunnah.
Huruf
Idgham Mimi hanya ada satu yaitu mim (م). Cara membaca Idgham Mimi ialah dengan memasukkan mim
yang bersukun kepada mim berharakat yang ada di hadapannya. Selainjutnya
suara di-ghunnah-kan secara sempurna tiga harakat atau satu alif[2]
dengan suara ghunnah yang keluar dari pangkal hidung. Contoh:
|
Huruf Idgham mimi |
Contoh |
Dibaca |
Q.S. |
|
م |
لهم
مثلا |
lahumm matsala |
18:32 |
|
لكم
ما فى الارض |
lakumm
ma fil ardli |
2:92 |
|
|
عليهم
مؤصدة |
‘alaihimm
mu’shadah |
106:8 |
Dalam
nazham dijelaskan:
والثان
ادغام بمثلها اتى # وسم ادغاما صغيرا يا فتى
Yang kedua (dalam hukum mim bersukun) adalah Idgham
(mimi), yaitu dengan memasukkan (menyatukan) dua huruf yang semisal.
Yang demikian itu dinamakan juga Idgham Shaghir, wahai para pemuda!
3
Izh-har Syafawi
Izh-har artinya jelas atau terang. Syafawi artinya
bibir. Terjadinya Izh-har Syafawi ialah:
الميم
الساكنة اذا وقع بعدها حرف من حرف اهجاء عدا الباء واميم ... يسمى اظهارا شفويا.
Apabila mim bersukun
bertemu dengan huruf hija-iyyah selain ba’ dan mim,
maka dinamakan Izh-har Syafawi.
Dengan
demikian, huruf Izh-har Syafawi adalah seluruh huruf hija-iyyah
selain ba’ (ب) dan mim (م). Dijelaskan dalam nazham:
والثالث
الاظهار فى البقية # من احرف وسمها شفوية
Yang ketiga
(dalam mim bersukun) adalah hukum Izh-har Syafawi, yaitu ketika
(huruf mim yang bersukun) menghadapi huruf-huruf sisa (dari Ikhfa’
Syafawi dan Idgham mimi). Cara membaca Izh-har Syafawi harus
jelas dan terang, yakni pada saat mengucapkan huruf mim dengan cara
merapatkan bibir. Kejelasan pengucapannya cukup satu ketukan, tidak boleh
lebih. Karena jika lebih, dikhawatirkan akan berubah menjadi Ikhfa’ atau
ghunnah. Contoh:
|
Huruf Izh-har Syafawi |
Contoh |
dibaca |
Q.S. |
|
ء |
اانتم
اشد |
a-antum asyaddu |
79:27 |
|
ح |
عليهم
حافظين |
‘alaihim hafizin |
83:33 |
|
ه |
امهاهم |
amhilhum |
86:17 |
Kejelasan
pengucapan ketika melantukan Izh-har Syafawi harus lebih diperhatikan
lagi atau diperjelas sejelas-jelasnya pada saat mim bersukun menghadapi
salah satu dari dua huruf dibawah ini:
و
ف
Kedua huruf
tersebut, makhrajnya berasal dari dua bibir (asy-Syafatain), sehingga
pengucapannya harus lebih berhati-hati agar tidak tertukar dengan huruf mim itu
sendiri, yang makhrajnya juga berasal dari bibir. Singkat kata, pengucapan mim
bersukun harus jelas lagi tatkala menghadapi huruf wau dan fa’. Dalam
nazham dijelaskan:
واحذر
لدى واو وفا ان تختفي # لقربها والاتحاد فا عرف
Hendaklah
berhati-hati ketika (mim bersukun) menghadapi wau dan fa’, janganlah
sampai di-ikhfa’-kan karena adanya kedekatan dan kesatuan (makhraj).
Maka, ketahuilah!
Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
|
Huruf Izh-har Syafawi |
Contoh |
dibaca |
Tidak Boleh Dibaca |
Q.S. |
|
و |
انشاكم
وجعل |
ansya-akum wa ja’ala |
ansya-akum wa ja’ala |
67:23 |
|
عليهم
ولا الضالين |
‘alaihim wa ladl dlallin |
‘alaihimm wa ladl dlallin |
1:7 |
|
|
ربكم
ورحمة |
rabbikum wa rahmatun |
rabbikumm wa rahmatun |
2:178 |
|
|
ف |
هم
فيها |
hum fiha |
humm fiha |
2:257 |
|
ولهم
فى الا خرة |
wa lahum fil akhirati |
wa lahumm fil akhirati |
2:114 |
|
|
بذنبهم
فسحقا |
bi dzambihim fa suhqa |
bi dzambihimm fa suhqa |
67:11 |
PENUTUP
Dapat disimpulkan bahwa hukum bacaan mim ada
tiga, yakni:
a.
الادغام الميمي, apabila bertemu huruf mim (م), contoh:
1.
لهم مثلا
2.
عليهم مؤصدة
3.
لكم ما فى الارض
b.
الاظهار الشفوي, apabila bertemu huruf selain mim (م) dan ba’ (ب), contoh:
1.
هم شر
2.
وتركهم فى
3.
هم فيها
c.
الاخفاء الشفوي, apabila bertemu huruf ba’ (ب), contoh:
1.
هم بمؤمنين
2.
هم بزالك
3.
ترميهم بحجارة
DAFTAR PUSTAKA
Abdurohim,
Acep Iim. 2016. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung: CV Penerbit
Diponegoro.
Sunaryo,
Agus, dkk. 2015. Modul Baca Tulis Al-quran (BTA) & Pengetahuan dan
Pengamalan Ibadah (PPI) IAIN Purwokerto. Purwokerto: UPT Ma’had al-Jamiah
IAIN Purwokerto.

0 komentar:
Posting Komentar
Silakan