Filsafat Pendidikan Islam

Kata filsafat berasal dari bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Dalam bahasa Inggris, yaitu philosopy, sedangkan dalam bahasa Yunani philen atau philos artinya cinta, dan sofein, sophi atau siphia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat dapat diartikan cinta kebijaksanaan. Dalam pembahasan filsafat pendidikan Islam, maka dapat dipahami dengan melihat konsep “ilmu,” “pendidikan,” dan “Islam”. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab, yakni al-‘ilmu, artinya pengetahuan. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang dapat berasal dari ide, pengalaman, observasi, intuisi, dan yang berasal dari wahyu dalam suatu ajaran agama.

Adapun pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui oleh seseorang melalui berbagai cara, misalnya dengan melihat, mendengar, merasakan, mengalami, membaca, dan cara-cara lain. Ilmu yang tersebar luas disosialisasikan melalui pendidikan. Pendidikan adalah usaha yang bersifat mendidik, membimbing, membina, mempengaruhi, dan mengarahkan setiap anak didik yang dapat dilakukan secara formal maupun informal. Islam sebagai ideologi pendidikan yang fungsinya mempertautkan semua ilmu pengetahuan kepada Sang Pemilik Ilmu atau rab al-‘alamin.

Dengan demikian, filsafat pendidikan adalah pengetahuan tentang sistem berpikir kritis, sistematis, logis, radikal, kontemplatif, dan spekulatif tentang metode, pendekatan, pola, dan berbagai model pendidikan yang Islami yang diterapkan secara formal maupun nonformal, baik di sekolah, di keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Filsafat Pendidikan Islam mengkaji hakikat dan seluk-beluk pendidikan yang bersumber dari al-quran dan as-sunnah, merumuskan berbagai pendekatan proses pembelajaran, merumuskan strategi pembelajaran, kurikulum, dan sistem evaluasi pendidikan dengan lendasan yang digali dari ajaran Islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan Islam yang khusus meupun yang umum, yang temporal maupun yang eternal.[1]

Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

Ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam tidak akan jauh dari beberapa hal berikut, yakni:[2]

a.       Hakikat para pendidik dan anak didik;

b.      Hakikat materi pendidikan dan metode penyampaian materi;

c.       Hakikat tujuan dan alat-alat pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan;

d.      Hakikat model-model pendidikan;

e.       Hekikat lembaga formal dan nonformal dalam pendidikan;

f.        Hakikat sistem pendidikan;

g.      Hakikat evaluasi pendidikan; dan

h.      Hakikat hasil-hasil pendidikan.

Sedangkan dalam segi Ilmu Pendidikan Islam, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Karena didalamnya banyak segi-segi atau pihak-pihak yang ikut terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Adapun segi-segi dan pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan Islam sekaligus menjadi ruang lingkup Pendidikan Islam adalah:[3]

a.       Perbuatan mendidik itu sendiri;

b.      Dasar dan tujuan pendidikan Islam;

c.       Peserta didik;

d.      Pendidik;

e.       Materi dan kurikulum Pendidikan Islam;

f.        Metode Pendidikan Islam;

g.      Evaluasi Pendidikan Islam;

h.      Alat-alat Pendidikan Islam; dan

i.        Lingkungan Pendidikan Islam.

Dari dua pembahasan tersebut, dapat ditarik pemahaman bahwa ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam Berkaitan dengan metode pendekatan yang diterapkan adalah sebagai berikut:

a.       Ontologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat substansi dan pola organisasi Ilmu Pendidikan Islam; pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk yang berakal dan berpikir. Jika manusia bukan makhluk yang berpikir, tidak ada pendidikan.

b.     Epistemoloi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat objek formal dan materi Ilmu Pendidikan Islam; seluk-beluk Pendidikan Islam bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah yang universal dan abadi.

c.   Metodologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun Ilmu Pendidikan Islam; dalam pendidikan Islam, metode pendidikan disebut dengan istilah tariqatul tarbiyah atau taariqatur tahzib; dan

d.   Aksiologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teorotos dan praktis Ilmu Pendidikan Islam. Berkaitan dengan tujuan pendidikan yang membentuk anak didik berakhlakul karimah, cerdas, terampil, beriman dan bertakwa, sistem evaluasi yang diterapkan harus mengarah pada tujuan yang dimaksud.[4]



[1] Drs. Hasan Basri, M.Ag., Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014), Hlm. 9-12

[2] Drs. Hasan Basri, M.Ag., Filsafat Pendidikan Islam,… Hlm. 14-15.

[3] Muhammad Muntahiubun Nafis, M.Ag., Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: SUKSES Offset, 2011), Hlm. 28-30.

[4] Drs. Hasan Basri, M.Ag., Filsafat Pendidikan Islam,… Hlm. 18

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan