, , , , , , , , , , ,

Epistemologi

Latar Belakang Masalah

Tatkala manusia baru lahir,ia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Nanti, tatkala ia berumur 40 tahunnan, pengetahuannya banyak sekali sementara kawannya yang seumur dengan dia mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak daripada dia dalam bidang yang sama atau berbeda. Bagaimana mereka itu masing-masing mendapat pengetahuan itu?mengapa dapat juga berbeda tingkat akurasinya? Hal-hal semacam ini dibcarakan di dalam epistemologi.[1]

Rumusan Masalah

a.       Apakah Epistemologi itu?

b.      Bagaimana Metode Dalam Teori Pengetahuan ?

c.       Apa Saja Aliran Dalam Epistemologi dan Bagaimanakah Perbedaan Satu Sama Lainnya?

Pembahasan

1.      Epistemologi

Istilah epistemologi berasal dari kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci, disebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, stuktur, metode, dan validitas pengetahuan.[2] Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dsarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetauan yang dimiliki.[3]

Pengertian lain, menurut William S.Sahakian dan Mabel LewisSahakian, 1965, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia.

Kajian epistemologi membahas tentang bagaimana proses mendapatkan ilmu pengetahuan, hal-hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran dan apa kriterianya. Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai sesuatu . Jadi yang menjadi landasan dalam tataran epistemologi ini adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral.

Prinsipnya episteomologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber  pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas – batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena itu, sistematika penulisan epistemologi adalah terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode – metode ilmiah dan aliran – aliran teori pengetahuan.

Selain itu, epistemologi juga mempersoalkan berbagai pengertian, seperti mengetahui, pengetahuan, kepastian, atau kebenaran pengetahuan. Misalnya Bagaimanakah suatu pikiran dapat terbentuk ? pertanyaan ini merupakan masalah dalam epistemologi,  sebuah pendapat tentang sesuatu. Kita hanya dapat menyusunnya, apabila kita benar – benar mempunyai pengetahuan tentang sesuatu.

2.  Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah[4]:

a.      Metode Induktif. Induktif yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umu. Dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilmu empiris ditandai oleh metode induktif, suatu inferensi bisa disebut induktif bila bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal, seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyataan universal. David Hume (1711-1716), telah membangkitkan pertanyaan mengenai induksi yang membingungkan para filosof dari zamannya sampai sekarang. Menurut Hume, pernyataan yang berdasarkan observasi tunggal betapapun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas. Dalam induksi, setelah diperole pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi, ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang. Dari contoh diatas bisa diketahua bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengan pengetahuan sintetik.

b.    Metode Deduktif. Deduksi ialah metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistempernyataan yang runtut, hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpelan itu sendiri. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain da nada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut. Popper tidak pernah menganggap bahwa kita dapat membuktikan kebenaran-kebenaran teori dari kebenaran pernyataan-pernyataan yang bersifat tunggal. Tidak pernah ia menganggap bahwa berkat kesimpulan-kesimpulan yang telah diverifikasi, teori-teori dapat dikukuhkan sebagai benar atau bahkan hanya mungkin benar, contoh: jika penawaran besar, maka harga akan turun. Karena penawaran beras besar, maka harga beras akan turun.

c.  Metode Positivism. Metode ini dikeluarkan oleh Augut Comte (1798-1857), metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian/persoalan diluar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif, adala segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada gejala-gejala saja. Menurut comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap: teologis, metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyataan kehendak kuasa. Pada tahap metafisik, kekuatan adikodrati itu diubah menjadi kekuatan yang abstrak, yang kemudian dipersatukan dalam pengertian yang bersifat umum yang disebut alam dan dipandang sebagai asal dari segala gejala. Pada tahap ini, usaha mencapai pengenalan yang mutlak, baik pengetahuan teologis ataupun metafisis dipandang tak berguna, menurutnyaa, tidaklah berguna melacak asal dan tujuan akhie seluruh alam, melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu. Yang penting adalah menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta dengan pengamatan dan penggunaan akal.

d.   Metode kontemplatif. Metode ini mengetakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali. Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifah yaitu pengetahuan yang datang dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran. Al-Ghazali menerangkan bahwa pengetahuan intuisi atau ma’rifah  yang disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paing benar. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini hanya bersifat individual dan tidak bisa dipergunakan untuk  mencari keuntungan seperti ilmu pengetahuan yang dewasa ini bisa dikomersialkan.

e.  Metode dialektis. Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode Tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti percakapan, bertolak paling kurang dua kutub. Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas dari itu, menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dan dialektika di sini berarti mengompromikan hal-hal yang berlawanan seperti: diktator, di sini manusia diatur dengan baik, tapi tidak mempunyai kebebasa (tesis); keadaan tersebut menampilkan lawannya, yaitu Negara anarki (anti tesis) dan warga Negara mempuyai kebebasan tanpa batas, tetapi hidup dalam kekacauan.; tesis dan anti tesis di sintesis, yaitu Negara demokrasi, dalam bentuk ini kebebasan warga Negara dibatasi oleh undang-undang dan hidup masyarakat tidak kacau.

3.  Aliran dalam epistemologi. Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat.[5] Ada aliran yang berbicara tentang ini, yakni:

a.       Empirisme

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang telah diketahui. Cara mengetahui sesuatu dapat dilakukan dengan mendengar, melihat, merasa, dan sebagainya yang merupakan bagian dari alat indera manusia. Semua pengetahuan yang didasarkan secara inderawi dikategorikan sebagai pengetauan empirik, artinya pengetahuan yang bersumber dari pengalaman. Oleh karena itu, pengalaman menjadi bagian penting dari seluk-beluk adanya pengetahuan, yang secara filosofis menjadi bagian dari kajian epistemologis.

Setiap manusia memiliki pengetahuan karena setiap manusia pernah mengalami sesuatu, dan setiap pengalamannya dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak. Dengan demikian, pada umumnya, manusia memiliki pengetahuan. Akan tetapi, karena setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda-beda, tentu dalam menyelesaikan masalahnya, bersumber kepada pengalaman yang beragam, sehingga pengetahuan pun menjadi semakin banyak.

Sala satu pengetahuan manusia bersumber dari pengalaman. pengalaman merupakan pengetahuan yang sangat berharga. Oleh karena itu, dalam filsafat, ada yang berpandangan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang utama, dan inila yang kemudia melahirkan empirisme. Empirisme adalah salah satu aliran dalam filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Kata empirisme berasal dari kata yunani empeirikos yang berasal dari kata empiria, artinya pengalaman.[6] Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalika kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena ia menyentuhnya, gula manis karena ia mencicipinya.

Filsafat empirisme tentang teori makna sangat berdekatan dengan aliran positivism logis (logical positivisme) dan filsafat Ludwig Wittegenstein. Akan tetapi, teori makna dan empirisme selalu harus dipahami melalui penafsiran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empiris, jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindera, dan hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama.

Penganut empirisme berpandangan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan bagi manusia. Tanpa pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu. Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, rasio hanyalah khayalan belaka.

John Locke, salah seorang penganut empirisme, yang juga “Bapak empirisme” mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, keadaan akalnya msih bersih, ibarat kertas kosong yang belum bertuliskan apa pun (tabula rasa). Pengetahuan baru muncul ketika indera manusia menimba pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian dalam kehidupan. Kertas tersebut ulai bertuliskan berbagai pengalaman inderawi. Seluruh sisa pengetahuan diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Beliau memperjelas teori Tabula Rasa yang secara Bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lentas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Berarti, bagaiman pun kompleks (ruwet)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera.sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pegetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.

Selain John Locke, pada era modern, muncul pula George Barkeley yang berpandangan bahwa seluruh gagasan dalam pikiran atau idea datang dari pengalaman dan tidak ada jatah ruang bagi gagasan yang lepas begitu saja dari pengalaman. Oleh karena itu, idea tidak bersifat independen. Pengalaman konkret adala “mutlak” sebagai sumber pengetahuan utama bagi manusia, karena penalaran bersifat abstrak dan membutuhkan rangsangan dari pengalaman. Berbagai gejala fisikal akan ditangkap oleh indra dan dikumpulkan dalam daya ingat manusia, sehingga pengalaman indrawi menjadi akumulasi pengetahuan yang berupa fakta-fakta. Kemudian, upaya faktulisasinya membutuhkan akal. Dengan demikian, fungsi akal tidak sekedar menjelaskan dalam bentuk-bentuk khyali semata-mata, melainkan dalam konteks yang realistic.

Kelemahan aliran ini culup banyak. Kelemahan pertama ialah indera terbatas. Benda yang jauh terlihat kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak. Keterbatasan kemampuan indera ini dapat meloprkan objek tidak sebagaimana adanya; dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua ialah indera menipu. Pada orang yang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga. Kelemahan ketiga ialah objek yang menipu, contohnya ilusi, dan fatamorgana. Jadi, objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Kelemahan keempat berasal dari indera dan objek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sini mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan, dan kerbau itu juga tidak dapat memperihatkan badannya secara keseluruhan. Jika kita melihatnya dari depan, yang kelihatan adalah kepala kerbau, dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya. Kesimpulannya ialah empirisme lemah karena keterbatasn indera manusia.

b.      Rasionalisme

Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia,  menurut aliran ini, memperoleh pengetauan melalui kegiatan akal menangkap objek. Orang mengatakan (biasanya) bapak aliran ini ialah Rene Descrcates (1569-1650); ini benar. Akan tetapi, sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang yunani kuno telah meyakini ini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebiih pada aristoteles.

Bagi aliran ini kekeliruan pada airan empirisme, yang disebabkan kelemahan alat indera tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Benda yang jauh kelihatan kecil karena bayangannya yang jatuh di mata kecil, kecil karena jauh. Gula pahit bagi orang yang demam karena lidah orang yang demam memang tidak normal. Fatamorgana adalah gejala alam. Begitu seterusnya.

Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan; pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian diperimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi, akal bekerja karena ada bahan dari indera. Akan tetapi, akal dapat juga menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan inderawi sama sekali, jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak

Kelihatannya sudah jelas hal pengetahuan itu sampai disini. Namun, ternyata belum. Indera dan akal yang bekerja sama belum juga dapat dipercaya mampu memperoleh pengetahuan yang lengkap, yang utuh. Dengan indera, manusia hanya mampu mengetahui bagian-bagian tertentu tentang objek. Dibantu oleh akal, manusia juga belum mampu memperoleh pengetahuan yang utuh. Akal hanya sanggup memikirkan sebagian objek. Manuisa mampu menangkap keseluruhan objek hanyalah dengan intuisinya. Inilah aliran ketiga. Kerjasama empirisme dan rasionalisme atau rasionalisme dan empirisme inilah yang melahirkan metode sain (scientific knowledge) yang dalam Bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetauan. Pengetahuan sains ialah jenis pengetahuan yang logis dan memiliki bukti empiris. Singkatnya, pengetahuan sains atau sains saja, ialah pengetahuan yang logis-empiris.

Jika hanya bekerja rasio, yaitu andalan rasionalisme, maka pengetahuan yang diperoleh iala pengetahuan filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tanpa dukungan empiris. Jadi, pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis saja.

c.       Islam

Kerap kali kita membaca dan mendengar orang mencoba mencari dan menerangkan arti agama dari segi etimologi, bahwa agama itu berasal dari dua kata: a = tidak dan gama = kacau. Kuat sekali untuk diduga bahwa teori tersebut berasal dari Fachroeddin Al-Kahiri. Pada bulan septembeer 1937, ketika beliau berbicara tentang “Faham dan arti Agama” beliau antara lain berkata sebagai berikut:

Sepanjang hemat kita adalah perkataan agama itu kata majmu’ bahasa sangsekerta , yang terdiri dari dua perkataan, yang pertama (a) dan kedua gama. A, artinya dalam bahasa sangsekerta: tidak; gama, artinya kocar-kacir, berantakan yang sama artinya dengan perkataan Griek: chaos. Jadi arti kata “agama” ialah tidak kocar-kacir, atau tidak berantakan. Lebih jelas lagi kata agama itu ialah teratur, beres. Jadi yang dimaksud di sini ialah satu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun mengenai budi pekerti, pergaulan hidup bersama dan lainnya.[7]

Berbicara tentang mencari arti agama dari segi etimologi, adalah menarik sekali uraian H.Bahrum Rangkuti, seorang muslim cendekiawan dan sekaligus seorang languist dan kini (1974) menjadi Sekjen Departemen Agama. Dalam ensiklopedia indonesia kita mendapatkan uraian tentang agama sebagai berikut: Agama (umum), manusia mengakui dalam agama adanya yang suci: manusia itu insaf, bahwa ada suatu kekuasaan yang memungkinkan dan melebihi segala yang ada. Kekuasaan inilah yang dianggap sebagai asal atau Khalik segala yang ada. Tentang kekuasaan ini bermacam-macam bayangan yang terdapat pada manusia, demikian pula cara membayangkannya. Demikianlah Tuhan dianggap oleh manusia sebagai tenaga gaib di seluruh dunia dan dalam unsur-unsurnya atau sebagai Khalik rohani. Tenaga gaib ini dapat menjelma dalam alam (animisme), dalam buku suci (Torat) atau dalam manusia (Kristus).[8]

Dalam pembahasan epistemologi Islam dibagi kedalam beberapa kelompok, yakni ;

1)  Epistemologi Bayani. Bayani adalah metode pemikiran khas arab yang menekankan otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung, dan dibenrkan leh akal kebahasaan dan digali lewat inverensi (istidlal)

2)  Epistemologi Burhani. Secara umum berarti pembuktian untuk membuktikan sesuatu, dalam bahasa latinnya berarti demonstrasi atau argument yang jelas.

3)  Epistemologi Irfani. Ini berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman sedangkan ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasianalitas (aql).

 

Kesimpulan

Dari uraian tersebut, dapat dipahami secara garis besarnya bahwa epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang mengkaji bagaimana cara memperoleh pengetauan atau ilmu pengetahuan. Dalam memperoleh pengetahuan itu sendiri, diperlukan bebarapa metode (induktif, deduktif, positivism, kontemplatif, dialektis, bayani, burhani, dan ‘irfani) sebagai pengantarnya untuk kemudian dihasilkan pengetauan yang mempunyai kaidah ukuran kebenaran berupa korespondensi, koherensi, konsensus, dan pragmatis. Semua ini tercangkup kedalam pembahasan tersendiri dengan beberapa aliran yang memandang hakikat suatu kebenaran, seperti empirisme yang berpijak kepada indera, rasionalisme yang berpijak pada akal, dan islam yang berpijak pada sumber ajaran agama (al-quran dan al-hadits).

 

Sumber Rujukan

Al-Kahiri, Fachroeddin. 1938. Islam memotret Faham Filosofie, Coetbah di radio V.O.R.L. Bandung:

Kemajoean Islam Djokdjakarta.

Mulia, T.S.G dan K.A.H Hiddung. Ensiklopedia indonesia, A-E, N.V. Penerbitan W. Van Hoeve

Bandung. ‘s-Gravenhage.

Sudarsono. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press.

Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.



[1] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm 24

[2] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Rineka Cipta,1993) hlm.137.

[3]  Prof.Dr.Amsal Bakhtiar, M.A, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), hlm 148

[4] Prof.Dr.Amsal Bakhtiar, M.A, Filsafat Ilmu, … hlm 152-156

[5] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan… hlm 23

[6] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm 24

[7] Fachroeddin Al-Kahiri, Islam memotret Faham Filosofie, Coetbah di radio V.O.R.L. (Bandung, Kemajoean Islam Djokdjakarta, 1938), p. 6.

[8] T.S.G Mulia dan K.A.H Hiddung, Ensiklopedia indonesia, A-E, N.V. Penerbitan W. Van Hoeve Bandung. ‘s-Gravenhage, tanpa tahun, p. 31.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan