, ,

Episodic and Semantic Memories

Episodic and Semantic Memories

 

Pada proses memori jangka panjang (LTM), yang mana diartikan sebagai tempat penyimpanan segala informasi yang saat itu beum dibutuhkan, namun akan berguna dan mempunyai makna penting untuk masa mendatang, melalui proses retrievable. Dalam dal ini, LTM terbagi menjadi memori eskplisit (deklaratif) dan memori implisit (nondeklaratif). sedangkan memori episodik dan memori semantik adalah bagian dari LTM dalam dimensi memori eksplisit (deklaratif). 

Memori episodik dimaknai sebagai kemampuan dalam memperoleh dan mengambil ulang informasi baru terkait ruang dan waktu, mencakup persyaratan ingatan sadar (Christopher R. Madan t.t.). Area otak terkait dengan memori episodik ini adalah temporal medial, lobus frontal, serta area lain (lobus parietal yang mempunyai peran terhadap detail sekaligus korteks retrosplenial). Memori episodik yang membangun kesinambungan dan identitas biografi, paling rentan terhadap kerusakan otak, yang mana secara otogenetik berkembang paling akhir (Koestoer, Bintoro, dan Pudjonarko 2017).

Sedangkan memori semantik pada awalnya didefinisikan sebagai database pengetahuan tentang dunia, secara general (Gema Martin-Ordas, Cristina M. Atance, dan Julian S. Caza 2014). Adapun melalui perkembangannya, berkaitan dengan perolehan bahasa, baik berupa kata, konsep, ide, dan peraturan-peraturan abstrak, yang tentunya berkaitan dengan proses recoding dan decoding (Jupitasari, Sulissusiawan, dan Patriantoro t.t.). 

Dalam perantaraan untuk membuktikan masa dean secara episodik, hubungan antara memori episodik dan memori semantik mempunyai hubunga erat. Memori episodik mempunyai peran andil besar dibandingkan dengan memori semantik dalam pengambilan makna kedepannya. Sedangkan memori semantik lebih mempresentasikan pada informasi baru sekitar objek (Wang, Yue, dan Huang 2016). Antara memori episodik dan memori semantik dapat diuraikan melalui gambar berikut:

Melalui gambar terrsebut, membedakan antar studi persepsi yang menyelidiki struktur fonetik bahasa (memori semantik) dan perolehan bahasa atau informasi baru (memori episodik). Di sini pula membedakan tata bahaha secara perspektif dan tata bahasa secara deskriptif. Dalam tata bahasa perspektif menekankan pada penetapan cara yang benar untuk menyusun penggunaan bahasa tertulis maupun lisan, sedangkan tata bahasa deskriptif adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk menggambarkan struktur, fungsi, dan hubungan kata-kata dalam bahasa. Contoh dari keduanya seperti ucapan Eka terhadap ayahnya yang membawa buku dari lantai atas, “Ayah, apa yang kamu bawa buku itu yang tidak saya inginkan dibaca sampai habis?” melalui kalimat itu, ahli bahasa perspektif mana pun akan menggelengkan kepalanya, keheranan, namun tidak bagi ahli bahasa deskriptif untuk mengurai kemampuan Eka untuk menghasilkan kalimat yang sedemikian kompleks, dan dengan interdependensi internal yang begitu rumit (Sternberg, Sternberg, dan Mio 2012)

 

Sumber Referensi

Christopher R. Madan. t.t. “Rethinking the definition of episodic memory.” School of Psychology, University of Nottingha.

Gema Martin-Ordas, Cristina M. Atance, dan Julian S. Caza. 2014. “How Do Episodic and Semantic Memory Contribute to Episodic Foresight in Young Children?” Frontiers in Psychology 5(732):1–11. doi: 10.3389/fpsyg.2014.00732.

Jupitasari, Mellisa, Ahadi Sulissusiawan, dan Patriantoro Patriantoro. t.t. “Pemerolehan Bahasa Melalui Membaca Permulaan Pada Tingkat Semantic Memory Anak Sekolah Dasar.” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa 6(11).

Koestoer, Clara Krishanti, Aris Catur Bintoro, dan Dwi Pudjonarko. 2017. “GANGGUAN MEMORI EPISODIK PADA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL DAN NONTEMPORAL.” Neurona (Majalah Kedokteran Neuro Sains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) 35(1).

Sternberg, Robert J., Karin Sternberg, dan Jeffery Scott Mio. 2012. Cognitive psychology. 6th ed. Belmont, CA: Wadsworth/Cengage Learning.

Wang, Tong, Tong Yue, dan Xi Ting Huang. 2016. “Episodic and Semantic Memory Contribute to Familiar and Novel Episodic Future Thinking.” Frontiers in Psychology 7. doi: 10.3389/fpsyg.2016.01746.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan