![]() |
ilustrasi foto oleh Sos/https://misi.sabda.org |
Definisi
altruisme merupakan kajian yang menyeluruh, garis besarnya dapat dikatakan
sebagai sikap untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun untuk
kepentingan orang lain, bukan untuk kepentingan diri sendiri, yang dilakukan
secara ikhlas atas dasar rasa peduli demi kesejahteraan orang lain.[1] Lebih lanjut, salah satu
hal yang mempengaruhi altruisme adalah religiusitas.[2] Religiusitas merupaan
keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan
hanya terjadi ketika seseorang melakukan ritual (beribadah), tetapi juga ketika
melakukan aktivitas lain yang didorong kekuatan supranatural.
Adapun
ciri-ciri suatu tindakan alturistik yakni:
a. Altruisme
haruslah merupakan tindakan.
b. Tindakan
itu mesti diarahkan pada tujuan meski bisa saja bersifat sadar ataupun refleks.
c. Tujuan
dari tindakan harus dimaksudkan pertama-tama dan utama demi memajukan
kemaslahatan orang lain.
d. Niat
lebih utama ketimbang konsekuensi.
e. Tindakan
itu mesti memiliki kemungkinan akibat bagi pengurangan atau cederanya
kemaslahatan saya sendiri.
f. Altruism adalah
tindakan tanpa pamrih, tujuannya hanyalah bagi kemaslahatan yang lain tanpa
timbal balik bagi si pelaku.[3]
Sedangkan
faktor yang menentukan seseorang melakukan tindakan altruistik adalah:
a. Situasi.
situasi merupakan hal penting untuk dijadikan pertimbangan di dalam melakukan
pertolongan terhadap orang lain, tidak selamanya semua situasi bisa digunakan
untuk melakukan pertolongan
b. Perceiver
(pelaku altruistik atau penolong). faktor yang meliputi berupa kepribadian,
kecakapan, mood, empati-sifat altruistis, dan perbedaan gender
c. Recipient
(penerima altruistik atau orang yang akan ditolong), faktor yang meliputi
berupa kesamaan, keanggotaan kelompok, ada keterkaitan, dan tanggung jawab
dalam kesusahan. [4]
Alat ukur tindakan altruisme itu sendiri
terdiri dari tiga hal yaitu:
a. Perilaku
memberi, perilaku ini bersifat menguntungkan bagi orang lain yang mendapat atau
yang dikenai perlakuan dengan tujuan memenuhi kebutuhan atau keinginan orang
lain, perilaku ini dapat berupa barang atau yang lain;
b. Empati,
yaitu kemampuan untuk mengetahui perasaan orang lain dan ikut berperan dalam
pergulatan di arena kehidupan, kesadaran terhadap perasaan kebutuhan dan
kepentingan orang lain; dan
c. Suka
rela, yaitu ketiadaan keinginan untuk mendapatkan imbalan apapun kecuali
semata-semata dilakukan untuk kepentingan orang lain. [5]
Sedangkan,
suatu tindakan dikatakan sebagai altruistik jika memenuhi tiga kriteria sebagai
berikut:
a. Memberi
manfaat bagi orang lain yang ditolong atau berorientasi untuk kebaikan orang
yang akan ditolong, karena bisa jadi orang berniat menolong namun
pertolongannya tidak disukai atau kurang baik oleh orang yang ditolong.
b. Pertolongan
yang diberikan berproses dari empati atau simpati yang selanjutnya menimbulkan
keinginan untuk menolong, sehingga tindakannya tiu dilakukan bukan karena
paksaan melainkan secara sukarela diinginkan oleh yang bersangkutan.
c. Hasil
akhir dari tindakan itu buka untuk kepentingan diri sendiri, atau tidak ada
maksud lain yang bertujuan untuk kepentingan si penolong. [6]
[1] Novita
Angraeni dkk., “POLA ASUH DEMOKRATIS UNTUK MENGEMBANGKAN PERILAKU ALTRUISME
ANAK DI ERA GLOBAL,” Journal of Innovative Counseling: Theory, Practice, and
Research 2, no. 02 (2018): 59.
[2] Julia Dwi
Putri dan Sayang Ajeng Mardhiyah, “Peran Religiusitas Terhadap Altruisme
Relawan Walhi Sumsel,” Insight: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
14, no. 2 (2018): 187.
[3] Robertus
Robet, “Altruisme, solidaritas dan kebijakan sosial,” MASYARAKAT: Jurnal
Sosiologi, 2015, 11.
[4] Mohamat
Hadori, “PERILAKU PROSOSIAL (PROSOCIAL BEHAVIOR); Telaah Konseptual Tentang
Altruisme (Altruism) Dalam Perspektif Psikologi,” LISAN AL-HAL: Jurnal
Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan 8, no. 1 (2014): 6–10.
[5] Sri W. Rahmawati, “Peran Pengasuhan Holistik Terhadap Altruisme dan Bullying,” Humanitas: Jurnal Psikologi Indonesia 14, no. 1 (2017): 15.
[6] Fibriana Miftahus Sa’adah dan Imas Kania Rahman, “Konsep bimbingan dan konseling cognitive behavior therapy (CBT) dengan pendekatan Islam untuk meningkatkan sikap altruisme siswa,” Hisbah: Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam 12, no. 2 (2015): 57.


0 komentar:
Posting Komentar
Silakan