![]() |
| ilustrasi hati oleh fatimah rahmawati / merdeka.com |
1.
Akrab
dengan al-Quran
Al-Quran
merupakan petunjuk utama untuk mencapai tsabat (keteguhan hati). Al-quran
merupakan penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Barang siapa
berpegang teguh dengan al-Quran, niscaya Allah akan memeliharanya, barang siapa
mengikuti al-Quran, niscaya Allah akan menyelamatkannya dan barangsiapa menyeru
kepada al-Quran, niscaya Allah akan menunjukinya kejalan yang benar.
Allah
azza wa jalla telah menjelaskan bahwa diturunkannya al-Quran secara
berangsur-angsur adalah untuk meneguhkan hati para hamba-Nya, sebagaimana
firman Allah tatkala membantah tuduhan kaum kuffar, “Orang-orang
kafir berkata: Mengapa al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat
hatimu dengannya dan Kami mem-bacakannya secara tartil” (al-Furqan : 32).
Diantara
alasan mengapa al-Quran sebagai sumber utama untuk mencapai tsabat,
karena al-Quran menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, diturunkan
untuk menentramkan hati manusia dan sebagai benteng bagi orang mukmin dalam
menghadapi hempasan fitnah. Al-Quran juga membekali muslim dengan konsepsi
serta nilai yang dijamin kebenarannya, sehingga dia mampu menilai sesuatu dan
menimbang sesuatu secara proposional dan benar.
2.
Iltizam
dengan Syariat Islam
Allah
berfirman “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan nasehat yang diberikan
kepada mereka, tentulah hal yang
demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di
atas kebenaran)” (an-Nisa : 66).
Jelas
sekali, tidak mungkin kita mengharapkan orang-orang yang malas dan tidak
melakukan amal shalih dapat memiliki keteguhan iman. Allah hanya akan
menunjukan kepada orang yang beriman dan mengamalkannya, jalan yang lurus. Oleh
karena itu, Rasulullah Saw., dan para sahabat senantiasa melakukan amal
shalih dan menjaganya secara terus-menerus. Dalam hal ini Rasulullah Saw.,
Bersabda “Barangsiapa memelihara shalat dua belas raka’at (sunnat rawatib),
niscaya ia dijamin masuk surga” (at-Tirmidzi 2/273).
3.
Mempelajari
Kisah Para Nabi
Tentang
pentingnya mempelajari kisah para Nabi, Allah berfirman “Dan Kami ceritakan
kepadamu cerita para Rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu” (Hud : 120).
Mari
kita renungkan kisah Nabiyullah Ibrahin Alaihis Salam tatkala
dilemparkan ke dalam api. Ibnu Abbas berkata Ucapan terakhir Ibrahim ketika
akan dilemparkan ke dalm api adalah, “Cukuplah Allah sebagai penolongku, Dia
adalah sebaik-baik pelindung” (al-Fath : 29).
Seandainya
Anda merenungi firman Allah di atas, tidakkah Anda merasakan adanya tsabat
yang meresap ke dalam jiwa Anda? Dalam kisah Musa As., Allah berfirman “Maka
setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa:
Sesungguhnya kita akan benar-benar tersusul. Musa menjawab: Sekali-kali tidak
akan tersusul, sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk
kepadaku” (asy-Syu’ara 61-62).
Bila
Anda bayangkan bahwa kisah tersebut terjadi di hadapan Anda, tidakkah Anda
merasakan tsabat di dalam hati anda?
4.
Berdoa
Di
antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah selalu memohon kepada-Nya
agar diberi keteguhan iman, seperti doa yang tertulis dalam firman Allah “Ya
Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah
Engkau beri petunjuk kepada kami” (ali-Imron : 250).
Agar
hati tetap teguh, maka Rasulullah Saw., banyak memanjatkan doa berikut
ini, “Wahai Dzat pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu” (HR.
At-Tirmidzi).
5.
Bedzikir
Kepada Allah
Dzikir
kepada Allah adalah amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena
pentingnya dzikir ini, Allah memadukan antara dzikir dengan jihad sebagaimana
dalam firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman , bila kamu memerangi pasukan (musuh),
maka berteguh hatilah dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya” (Al
Anfal : 45).
Dalam
ayat tersebut Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang baik untuk
mencapai tsabat dalam jihad. Nabiyullah Yusuf As., pun memohon
bantuan untuk mencapai tsabat dengan dzikrullah saat dirayu oleh
seseorang perempuan cantik yang mempunyai kedudukan tinggi. Demikianlah
pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang beriman.
Tak
seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan
sehingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Untuk itu kita perlu
merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita.
6.
Menempuh
Jalan Lurus
Allah
berfirman “Dan bahwa (yang Kami peritahkan) ini adalah jalanKu yang lurus,
maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan
kamu dari jalanNya” (al-An’am: 153).
Dan
Rasulullah Saw., mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi
73 golongan, semua masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad,
hasan).
Dari
sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di
jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak
membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Lalu, jalan manakah yang selamat
dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek
keberagaman kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits, jalan yang
benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan pemahaman
agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasulullah Saw., kepada para
sahabatnya (HR. Turmudzi).
Itulah
yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama berdasarkan akal
manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya majemuk dan terbatas. Tradisi
pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi’in dan para imam
shalihin. Paham keagaman inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam
selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian
menyebutnya dengan pemahaman para salafus
shalih.
Orang
yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam
menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada
di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah,
mereka akan senantiasa bingung dan ragu. Berpindah dari suatu lingkungan
sesat ke ingkungan bid’ah, dari
filsafat ke ilmu kalam, dari mu’tazilah
ke ahli tahrif, dari ahli ta’wil
ke murji’ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan
seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj
(jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.
7.
Menjalani
Tarbiyah
Tarbiyah
(pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak, yakni paling
tidak ada empat macam. Tarbiyah Imaniyah, yaitu pendidikan untuk
menghidupkan hati agar memiliki rasa khauf (takut), raja’
(pengharapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta untuk
menghilangkan kekeringan hati yang disebabkan oleh jauhnya dari al-Quran dan
Sunnah. Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil
yang benar dan menghindari taqlid buta yang tercela.
Tarbiyah
Wa’iyah, yaitu pendidikan untuk mempelajari siasat orang-orang jahat,
langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa yang
terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar. Dan Tarbiyah Mutadarrijah,
yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi
setingkat menuju kesempurnaannya, dengan progam dan perencanaan yang matang.
Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.
Itulah
beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul kepada para sahabatnya. Berbagai
tarbiyah itu menjadikan para sahabat memiliki iman baja, bahkan membentuk mereka
menjadi generasi terbaik sepanjang masa.
8.
Meyakini
Jalan Yang Ditempuh
Tak
dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang
ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka bertambah pula tsabat
(keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan untuk
mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah kita
harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah jalan para nabi, shiddiqien,
ulama, syuhada dan orang-orang terpilih karena kebenaran yang kita pegang,
sebagaimana firman Allah “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas
hamba-hambaNya yang ia pilih” (QS.an-Naml 59).
Bagaimana
perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda mati, binatang, orang
kafir, penyeru bid’ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau
da’i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni
sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.
9.
Berdakwah
Jika
tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka
perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung
adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan
manusia dari adzab Allah. Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada
perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat
dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, Iman itu bisa bertambah dan
berkurang. Jika seorang da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil
dalam perjalanan dakwahnya, tetapai ia tetap terus berdakwah maka Allah akan
semakn menambah dan mengokohkan keimanannya.
10. Dekat
Dengan Ulama
Rasulullah
Saw., Bersabda “Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci
kebaikan dan penutup kejahatan” (HR. Ibnu Majah, No. 237, hasan).
Senantiasa
bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam
sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu
Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti
diutarakan Ali bin A-Madini Rahimahullah “Di hari riddah (permutadan)
Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian)
dengan Imam Ahmad”
Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat, Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Serta-merta
kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman.
11. Meyakini
Pertolongan Allah
Mungkin
pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah,
tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang
dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak
membutuhkan tsabat agar tidak berputus asa. Allah berfirman “Dan
berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya
yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di
jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah
menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb
Kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam
urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang
kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala
yang baik di akhirat” (QS. ali-Imran 146-148).
12. Mengetahui
Hakikat Kebatilan
Allah
berfirman “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang
kafir yang bergerak dalam negeri” (QS. ali-Imran : 196) “Dan demikianlah
kami terang-kan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan
supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam)”
(QS. al-An’am : 55) “Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil
telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap” (QS. al-Isra’ : 81).
Berbagai
keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman.
Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan
mengukuhkan seeorang untuk tetap teguh berada dalam keimanan-Nya.
13. Memiliki
Akhlak Pendukung Tsabat
Akhlak
pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Saw.,
“Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan
lebih luas daripada kesabaran” (HR. al Bukhari dan Muslim).
Tanpa
kesabaran iman yang kita milikimakan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai
musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapi tsabat.
14. Nasehat
Orang Shalih
Nasehat
para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu,
dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering
meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami
berbagi ujian, saat diberi jabatan, saat diberi rezeki yang banyak dan
lain-lain. Bahkan sekaliber Imam Ahmad pun, beliau masih perlu mendapat nasehat
saat menghadapi ujan berat oleh intimidasi penguasa yang tirani. Bagaimana pula
halnya dengan kita.
15. Merenungi
Nikmatnya Surga
Surga
adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah
tujuan pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini adanya pahala dan surga
nisaya akan mudah menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya untuk tetap
tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.
Dalam
meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah Saw., Sering mengingatkan
mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar
yang sedang disiksa oleh kaum musyirikin beliu mengatakan “Bersabarlah wahai
keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah surga” (HR. al Hakim).
Mudah-mudahan kita bisa merawat dan
terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah mengakhirkan kita dalam
keadaan husnul khotimah. Amin [ ]
Referensi:
Tips
dari Ust. Abdurrahman Idrus Lasyarie Thn. 2009


0 komentar:
Posting Komentar
Silakan