(Dua Jalan Mencari Kebenaran)
|
Judul Buku |
: Sains “Religius” Agama “Saintifik” : Dua Jalan Mencari Kebenaran |
|
Penulis |
: Haidar Bagir & Ulil Abshar Abdalla |
|
Penerbit |
: Mizan |
|
Tahun Terbit |
: Agustus 2020 |
|
Jumlah Halaman |
: 172 |
|
Berat Buku |
: 21 Cm |
|
ISBN |
: 978-602-441-178-7 |
|
Genre |
: Islam dan Sains |
Tentang Penulis
Haidar
Bagir. Terlahir di surakarta, 20
Februari 1957. Jalur pendidikan ditempuh dari S-1 jurusan Teknologi Industri
ITB (1982), S-2 dari Pusat Studi Timur Tengah, Harvard University, As (1992),
dan S-3 dari jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) dengan riset selama
setahun (2000-2001) di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University,
Bloomington, As. Nama penerima tiga beasiswa Fullbright ini selama beberapa tahun berturut-turut masuk di dalam
daftar 500 Most Influentical Muslim (The
Royal Islamic Strategic Studies Centre, 2011).
Selain sibuk mengurus yayasan pendidikan dan sosial serta
menjadi presiden direktur sebuah rumah penerbitan, dia telah menulis beberapa
buku, diantaranya: Buku Saku Tasawuf;
Buku Saku Filsafat Islam; Buat Apa Shalat?!; Surga di Dunia, Surga di Akhirat;
Era Baru Manajemen Etis; Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan (telah
diterjemahkan dan diterbitkan di Inggris dengan judul Islam: The Faith of Love and Happiness); Belajar Hidup dari Rumi; Mereguk Cinta Rumi; Semesta Cinta: Pengantar
kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi; Epistemologi Tasawuf; Dari Allah Menuju Allah;
Mengenal Tasawuf; dan Memulihkan
Sekolah, Memulihkan Manusia. Dia juga aktif memberikan ceramah keagamaan
dan menjadi pembicara di sejumlah seminar keilmuan. Selain itu, dia menjabat
sebagai International Board Member of Compassionate Action International dan
Pendiri Gerakan Islam Cinta, serta menjadi dosen ICAS dan STFI Sadra, Jakarta.
Ulil
Abshar Abdalla. Terlahir pada 11
Januari 1967, di Cebolek, Pati, Jawa Tengah. Dia menempuh pendidikan dasar di
Madrasah I’anatut Thalibin di Cebolek dan pendidikan tingkat menengah di
Madrasah Mathaliul Falah, Kajen, Pari. Dia kemudian menempuh pendidikan S-1 di
Fakultas Syariah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta
dan S-2 di Bostom University di Amerika Serikat. Minatnya mencakup: hukum
Islam, filsafat, teologi, tasawuf, sejarah Islam, grammar Arab, sastra Arab, sastra Indonesia, dan sains. Dia banyak
terlibat dalam kegiatan dialog antar-agama dan gerakan pembaruan pemikiran
Islam. Dia mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 2001.
Selain mengajar di program pasca-sarjana di Universitas Islam Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), dia juga mengampu pengajian yang dikenal dengan Ngaji Ihya’ Online, dan menulis buku Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam; Menjadi Manusia Rohani; Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita?!; Metodologi Studi Al-Qur’an; Menjadi Muslim Liberal; Membakar Rumah Tuhan. Dia tinggal bersama istrinya, Lenas Tsuroiya, dan dua putranya di Jatibening, Bekasi.
Latar
Belakang dan Tujuan Penulisan Buku
Terbitnya buku berjudul sains “religius” agama “saintifik” dilatarbelakangi tatkala kedua
penulis ini saling sapa dalam sebuah forum yang diadakan via zoom, bertajuk agama dan sains. Melalui
kotekstualisasinya terhadap wabah covid-19, dengan peserta diskusi dari para
agamawan dan ilmuwan, timbulah semacam adu argumen diantara dua kubu peserta,
versi agama dan ilmu pengetahuan-sains. Melihat situasi demikian, Haidar Bagir
(selanjutnya disingkat menjadi HB) menyampaikan gagasan, bahwasanya diantara
mereka tidak ada perselisihan sepanjang sejarah, melalui term pembahasan
“melacak akar (ketiadaan) konflik agama dan sains” inilah HB mencoba untuk
meredakan suasana diskusi. Disisi lain, Ulil Abshar Abdalla (selanjutnya
disingkat menjadi UAA) sebagai salah satu peserta diskusi, mencoba untuk
mendamaikan alur diskusi melalui sudut pandang lain, Ia menyatakan diri agar jangan
sampai ada sikap wahabisme dalam sains terhadap agama. Akhirnya, suasana
diskusi pun memanas dan melahirkan banyak pro dan kontra diantara kedua kubu.
Singkat cerita, UAA melahirkan banyak tulisan kecil sebagai
tindak lanjutan diskusi dengan mengangkat tema pokok yang tidak jauh berbeda
dari pembahasan kala diskusi tersebut, pun demikian halnya HB, setelah
merenungi dan mencermati hasil tulisan UAA, ketertarikan untuk menulis akhirnya
muncul dan mengangkat tema yang tidak jauh pula dari tajuk diskusi kala itu.
Hanya saja, jika UAA lebih memandang permasalahan konflik antar dua kubu
diskusi dari sudut pandang agama, maka HB menuangkan ide tulisannya dari sudut
pandang sains. Dari situlah, tujuan buku ini sebenarnya menyatukan hasil
tulisan kecil dari kedua tokoh dengan sudut pandang berbeda terhadap pembahasan
yang sama, yakni sains “religius” agama
“saintifik. Dengan pembawaan gaya bahasa yang tidak terlalu ilmiah,
kehadiran buku ini menjadi sebuah jembatan tensendiri akan kepongahan
masing-masing kubu dengan yang mendeklarasikan diri paling benar.
Poin
Utama Buku
Pada poin kali ini, reviewer
akan membagi dan atau mengkosep intisari buku, yang notabene adalah hasil
tulisan dari dua orang dengan sudut pandang berbeda terhadap satu tema
pembahasan. Buku ini terbagi dalam dua sisi, sesi atau bagian, sisi pertama
diwakili oleh HB, melalui sudut pandang sains, dengan total buah ide tulisan
sebanyak 14 (empat belas) sub bahasan (1-14,) sisi kedua terwakili oleh UAA,
melalui sudut pandang agama, dengan total sub bahasan sejumlah 11 (sebelas) bahasan
(15-25).
Bagian Pertama,
Haidar Bagir (HB)
HB memberikan pengantar dalam bunga rampai tulisannya,
bahwasanya pemikiran abad yang melandasi hadirnya zaman modern bermula dari
masa Descrates, dalam aspek mengetahui yang melibatkan antara subjek (manusia)
dan objek (unsur-unsur alam semesta), yang sepenuhnya terpisah. Dalam
perkembangan selanjutnya, hal demikian melatarbelakangi keyakinan modern
melalui metode ilmiah yang dilandaskan pada deduksi rasional dan induksi
empiris. Singkat cerita, melacak akar historis munculnya diskursus epitemologis
adalah bentuk perlawanan terhadap kungkungan dogma agama, yang lebih bersifat
historis, sosiologis, bahkan politis. Sampai sekarang, diskursus epistemologis
mewarnai diberbagai lini kehidupan, padahal jika dicermati lebih detail, ktitik
yang dilontarkan agama –dan juga filsafat– dalam hal memperoleh pengetahuan
yang benar, bukan berarti absen sama sekali dalam sains. Alih-alih mengagungkan
metodologis demi kesejahteraann umat manusia, namun, sisi psikologis dan
spiritual manusia menuai ketakterpuasan, bahkan kering keontang.
Bahasan
Pertama, Ekstremis Agama Sudah Lumrah,
Ekstremis Sains, Waduh! HB hendak memadamkan kepongahan yang ditimbulkan dari
dua kubu, filsafat dan agama, dan sains. Sejatinya, HB menginginkan agar saling
sapa dan rendah hati diantara mereka, dengan membuka hati untuk saling
berdialog dan membaca satu sama lain, menelaah kitab dan atau karya-karya besar
dari masing-masing kubu, tentunya dengan memosisikan diri untuk terbuka.
Jikalau pun mau memenangkan diri atas yang lain, maka diperlukan kritik dengan
cara memahami terlebih dahulu teks pegangan lawannya, bukan cuman satu-dua,
melainkan teks secara keseluruhan dari pembacaan teks-teks kuno, dari awal
kisah berdirinya sebuah kubu sampai ditarik ke zaman sekarang. Melalui term andalannya,
HB memberi solusi untuk orang-orang yang merasa dirinya mendapatkan kebenaran
dari pemikiran-pemikiran dari kubunya, tanpa memandang kubu lain, yakni the benefits of the doubt.
Bahasan
Kedua, Pernah Dengar Nama Feyerabend,
Bukan? Paul Karl Feyerabend (1924-1994), ahli filsafat sains dan profesor
filsafat di Universitas California, Berkeley. Salah satu karyanya yang paling
terkemuka adalah Against Method (1975).
Dia juga terkenal karena pandangan anarkirnya tentang sains dan penolaannya
terhadap keberadaan aturan metodologi universal dalam pengetahuan. Menurutnya,
sikap terbaik dalam hal ini adalah menerima apapun (anything goes) metodologi yang ada. Kontektualisasinya terhadap
sains, filsafat dan agama jelas sekali, bahwa masing-masing mempunyai
sistematika pembenaran masing-masing, metode verifikasi. Sebut saja context of justification dan context of discovery, lebih jauh lagi
mengenai agama, bisa ditinjau karyanya William James, The Varieties of Religious Experience.
Bahasan
Ketiga, Metode Sains Lebih Baik
daripada Agama dan Filsafat? Nampaknya, belakangan ini manusia –sekelompok
tertentu, tidak semuanya– mudah untuk meremehkan suatu bidang tertentu
(filsafat, agama, dan sains), lebih paranya lagi membandingkan antar bidang
dengan standarisasi umum, diluar aturan bidang. Alhasil, pemaknaan terhadap
bidang pun salah kaprah, bahkan dalam satu bidang yang sama juga tidak luput
akan caos pemaknaan. HB mendobrak dan
memberikan solusi atas problematika tersebut dengan pemikiran Wittegenstein
yang dikatakan sebagai language game (permainan
bahasa) yang khas. Jadi, untuk memahami makna bahasa dari sebuah pertanyaan
ataupun pernyataan, haruslah dilihat secara keseluruhan dalam berkaitan konteks
si penanya atau pembuat pernyataan. Begitu pula dinamika permainan bahasa
diantara filsafat, agama dan sains, alangkah kurang seksi bilamana rule of the language dalam satu bidang,
dipakai untuk memaknai bidang lain. jadi, masing-masing bidang mempunyai aturan
pemakaian bahasanya sendiri, sayangnya, ada sebagian manusia zaman sekarang
yang malas untuk memahami pemakaian gaya bahasa yang rumit, terlebih tenggelam dalam
cara hidup pragmatis, mageran.
Bahasan
Keempat, Jerawat di Balik Wajah Memesona
Sains. Bagian ini membicarakan perbedaan keobjektifan sebuah kebenaran, antara
rasionalisme dan empirisme, dan dimungkinkan pula bahwa objektif itu sendiri
belum tentu objektif. Disinilah penting untuk memahami pengaruh luar dan atau
maksud tujuan dari masing-masing aliran yang melingkupi atas justification of truth. Sains pun
demikian adanya, pergolakan didalam sains, bukan berarti membingungkan, justru
hal itu sebuah keharusan yang harus ada dalam sains. HB memaparkan konsep,
siklus, sains yang digagas oleh Thomas Kuhn (1922-1996), ahli sejarah dan
filsafat sains asal Amerika Serikat. Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962), salah satu karya
yang paling berpengaruh dalam sejarah dan filsafat yang ditulis pada abad ke-20
Bahasan
Kelima, Ada, lho, Daya-Daya Berpikir
Manusia, selain yang Empiris dan Rasional. Diluar jangkaian akal dan ide, daya
manusia bisa disebut kemampuan intuitif dan imajinatif, hukum silogisme
menyebutnya sebagai terma tengah (middle
term), sains menyebutnya sebagai a
priori atau bersifat swabukti. Michael Polanyi menyebutnya sebagai tacid knowledge (innate knowledge/idea), pemikir lain menyatakan sebagai irrational
intuition. Yang perlu dipertegas, penamaan term dengan berbagai versinya itu,
tidaklah bersifat nir-realitas. Maslow menyebutnya transpersonal, sedang
Rudolph Steiner menyebutnya “pengalaman spiritual yang terus menukik.” Jadi,
untuk memahami variasi term dan pemaknaan tersebut, haruslah dipelajari
perbedaan dalam epistemologi masing-masing, dan pada titik akhirnya, banyak hard science berasal dari sesuatu yang
tidak dimungkinkan secara logis-empiris (Carl Gustang Hempel), disinilah peran contect of discovery dan context of justification. Namun, ilmu
yang diperlukan verifikasi logis adalah ilmu dalam tataran context of justification, dapat dibuktikan baik secara rasional
maupun empiris.
Bahasan
Keenam, Sains itu Produk Khayal (Juga).
Penemuan besar dalam bidang sains, tak jarang bermula dari sebuah imajinasi,
khayalan, sekaliber Einstein pun berkata “... sesungguhnya imajinasi lebih
penting daripada pengetahuan rasional, pengetahuan itu terbatas. Imajinasi
merangkul dunia.” Begitulah teori relativitas khusus dan umum yang ditemukannya
lewat majinasi bahwa Ia membayangkan sedang menunggangi gelombang-gelombang cahaya
sambil mengamati perilaku cahaya gelombang lain yang bergerak sejajar dengan
gerakannya. Eisntein tidak sendirian, banyak tokoh yang mempunyai pemikiran
besar pun lewat imajinasi, sebut saja Michel Faraday (gelombang
elektromagnetik), Dmitri Mendelev (tabel periodik unsur kimia), dan Prof. Abdus
Salam (teori penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah, terinspirasi
dari al-quran). Intinya, imajinasi itu membedakan diri dari imajinasi yang
terbentuk tatkala seseorang dalam keadaan terjaga, sedang yang lain melalui
mimpi.
Bahasan
Ketujuh, Evolusi, Yes. Agama, Fiksi?
Nanti Dulu! HB menodorkan bahwa tidak semuanya dalam teori evolusi itu salah,
sebagai counter attack dari agamawan.
Ia berdalih dengan dan atau menjelaskan melalui label pemikiran Muslim jua,
pada intinya diumpamakan dengan penciptaan alam, tidak langsung jadi, melainkan
melalui beberapa tahapan (fase). Namun, mengesampingkan agama, Tuhan, itupun
tidak dibenarkan, inilah polemik para ilmuwan tatkala mengagungkan sains,
dengan meneror agamawan melalui pemakaian term tertentu untuk menyihir pembaca.
Pemaknaan term fiksi, dinilai segala sesuatu yang bukan materi, term kenyataan
diimajinasikan pun keliru dalam pemaknaan, terlebih term mitos sebagai peluru
utamanya dalam teror-meneror. Nampaknya, mencoba menghilangkan Tuhan, peran
Tuhan, Eksistensi Tuhan, adalah wacana yang menyihir pembaca untuk membenarkan
sains, melalui perhiasan metodologi sedemikian rupa, penyampaian fakta dan
dikemas dalam nilai guna bagi manusia, adalah perlu untuk diwaspadai. Minimal
dicermati dalam tataran ilmu pengetahuan akhir-akhir ini.
Bahasan
Kedelapan, Ragu Badan, Ragu Alam, Ragu
Tiadakah Tuhan? HB mengawali tulisan kali ini dengan perbincangannya bersama
teman yang bekerja sebagai dokter di Bandung. Sang dokter menyampaikan bahwa
“ragu badan” adalah lawannya keyakinan bahwa badan kita bekerja dengan
sepenuhnya bisa diduga (predictable).
Menurutnya, ilmu kedokteran masih jauh dari sempurna untuk menduga secara
keseluruhan gejala yang terkait dengan cara kerja badan. Kiranya, biang kerok
dari semua ini adalah peradaban positivistik-saintik. Kausalitas, dengannya
manusia merasa tahu dan bisa mencari solusi dengan tepat dalam segaa problematika
yang ada. Padahal, kausalitas yang disusun oleh manusia, belum sepenuhnya atau
bahkan bagia terkecil dari sekian banyak variabel terkait satu sama lain,
artinya kausalitas selama ini bersifat sebagian, belum menyeluruh. Nah, jika
ditinjau dari alam, mereka meyakini adanya hukum alam diluar kausalitas, dengan
roh superior sebagai pengendalinya. Lain halnya dalam tataran agama, sejarah
telah berbicara dan mungkin saja sampai dunia ini berakhir, berbagai aliran
tentang penerjemahan takdir yang berpolemik tak ada habisnya. Jabariyah,
Mu’tazilah, Asy’ariyah, Syi’ah dan aliran (paham) lain didunia ini. Contohnya,
ketika “kapas terbakar oleh api,” buka api yang membakar kapas, hanya saja
suatu proses yang terjadi secara susul-menyusul. Toh, polemik terus saja, peran
Tuhan hadir dalam setiap kejadian, hukum sunatullah
adalah keniscayaan. Singkatnya, sains, dengan positivistik, amatlah pongah jika
mendeklarasikan diri bersifat rigid
menjelaskan fenomena.
Bahasan
Kesembilan, Aspek Saintifik dalam Pemikiran
Kegamaan? Bukan Tidak Mungkin! Dalam sejarah filosofis pemikiran aliran Islam,
sedikitnya ada empat aliran utama, yakni 1) teologi Dialektik; 2) Filsafat
Paripatetik; 3) Tasawuf atau ‘Irfan (Gnosis atau Teosofi); 4) Hikmah Iluminisme
(Isyraqiyyah); dan 5) Hikmah Sublim
atau Teosofi Transenden (al-hikmah
al-muta’aliyah). Mehdi Ha’iri Yazdi –seorang filsuf yang mendapatkan gelar
doktor danmengajar di McGill University, Kanada– memetakan tiga level
mistisisme, yakni (1) pengalaman mistis yang tak terdeskripsikan, (2) bahasa
mistisisme (bahasa dari mistisme), dan (3) metamistisisme (wacana ilmiah
tentang mistisisme). Poin ketiga inilah yang berkaitan dengan tajuk kali ini,
dimana wacana ilmiah tentang mistisime mulai hangat dalam dunia akademik, dan
mungkin saja sebagai bentuk perlawanan atas peradaban modern yang kering
spiritual. Namun, level ketiga pun memungkinkan untuk benar dan juga salah.
Alhasil, suatu jenis pengetahuan bisa salah mungkin tampak tidak berarti,
tetapi sesungguhnya hal ini memiliki implikasi penting tentang pembahasan
mengenai validitas sistem filosofis yang dikalaim berasal dari pengalaman
mistis.
Bahasan
Kesepuluh, Mustahilkah Memverifikasi
Pengalaman Keagamaan? Jawabannya tentu tidak, pengalaman keagamaan dapat
di-ilmiahkan –bukan berarti tidak diterima secara menyeluruh, adalah niscaya
bahwa sebagian kelompok, daerah atau apapun itu, pasti kurang menyetujuinya–
melalui metode tersendiri. Sebut saja William James, melalui metodenya,
empirisme radikal, bahwa pengalaman keagamaan dari berbagai macam agama, zaman
dan budaya dapatlah dijelaskan secara universal. Core of context of justification, dimungkinkan jika bisa kita
dapati adanya upaya untuk mengungkapkan (hasil) pengalaman. Setidaknya,
mengenai justifikasi atas pengetahuan, sedikitnya ada 3 (tiga) cara yang dapat
ditemput, khususnya dalam metode saintifik. Pertama
adalah koherensi, yakni kesejalanan logis sebuah pengetahuan dengan
pengetahuan-pengetahuan yang sudah diterima sebagai kebenaran sebelumnya. Kedua, koherensi empiris, yakni
kesejalanannya dengan fakta-fakta empiris, masuk kedalamnya metode eksperimen.
Dan ketiga, pendekatan pragmatis,
yakni suatu pengetahuan saintifik diterima kebenarannya jika terbukti
menghasilkan manfaat atau nilai guna, dalam kasus ini, pengetahuan saintifik
lebih dilihat sebagai bersifat instrumental ketimbang pencarian kebenaran yang
utuh. Begitu pun dimensi keagamaan, agama menambahkan cara lain dalam
justifikasi, yakni kesejalanan dengan teks suci dan otoritas keagamaan yang
diyakini infallible (tak bisa salah),
atau setidaknya yang bisa diandalkan.
Bahasan
Kesebelas, Tidak dengan Demikian Harus
Dilakukan Islamisasi Sains. HB, mengerti betul akan posisi atau domain dari
sains, filsafat dan agama, yang menjadi percekcokan diantara tokoh-tokoh yang
ada dalam ketiga term itu. Inilah polemik yang mendasarinya, dengan kata lain
pembukaan diri untuk menerima dan memahami masing-masing domain adalah
keharusan, tanpa meniadakan aau bahkan menghujat diantar satu sama lain.
Kiranya, pemahaman demikianlah yang sedang dibituhkan pada masa sekarang ini-
peradaban modern atau post-modern, dengan dimensiasi klaim kebenaran sana-sini,
timbul dan berkeliarnya Hoaks. Maka,
mengaitkan sains dan agama, dengan persamaan dan perbedaannya tersendiri dalah
saling mengisi diantaranya. Dalam hal ini, sains mereduksi ketiga aspek
filsafat sains, yakni dalam aspek eits-aksiologis, banyak pertanyaan muncul
akibat penerapan produk sains dikehidupan secara aksiologis, seperti tragedi
bom atom penghancur masal. Dari aspek etimoogis, yang hanya megakui alam
empiris dan rasionalis sebagai sumber pengetahuan, dengan mengesampingkan alam
antara (imajinal) dan intuisi, apalagi alam spiritual atau batin (innate). Dan dalam aspek ontologis,
perhatian sains modern adalah lebih kepada esensi (kiditas/quiddity) ketimbang kepada wujud (existence atau being).
Alhasil, yang kita butuhkan saat ini adalah reintegrasi antara sains, filsafat
dan agama, bukan bermakna mencapuradukan diantara mereka, namun penggabungan
secara jernih dengan tetap mempertahankan batas wilayah yang jelas dari
masing-masing ketiganya. So, HB tidak
lebih menghendaki diadakannya islamisasi sains, namun lebih kepada kedewasaan
masing-masing melalui domainnya sendiri.
Bahasan
Kedua belas, Melacak Akar
(Ketiadaan) Konflik antara Agama dan
Sains. Harmonisasi antara agama dan sains memang benar adanya, sampai pun
ditelisik jauh ke zaman kenabian, dimana sahabat Ali r.a dikenal sebagai ahli
teknologi pertanian, dan sahabat Salman al-Farisi sebagai ahli teknologi. Berlanjut
ke era setelahnya, zaman keemasan Islam, dimana terlahir banyak para fuqaha,
teolog, dan ilmuwan yang satu sama lain dari disipin kajian bukanlah terpisah
pada diri seseorang, melainkan multi disiplin ilmu bagi masing-masing tokoh.
Tampaknya, akar timbulnya konflik antara agama dan sains dilatarbelakangi oleh
1) kurangnya kemampuan bersikap krtitis yang merupakan akibat langsung dari
rendahnya tingkat pendidikan sebagai Muslim, dan 2) situasi psikologis akibat
kemunduran politik yang melahirkan mental underdog-pascatrauma
Perang Salib, penjajahan negeri-negeri Muslim selama berabad-abad oleh Barat,
lalu apa yang dilihat sebagai hegemoni sosial-politik Barat atas negeri-negeri
Muslim pasca-kemerdekaan.
Bahasan
Ketiga belas, Jangan Lupakan
Jejak-Jejak Sains Islam dan Sains Modern. Pada intinya, HB menjelaskan melalui
pernyataan berbagai macam toko maupun sarjana Barat dalaim kaitannya kelahiran
atau apa yang ada di zaman modern ini, peradaban Muslim (abad pertengahan)
adalah cikal bakal, gen, fondasi dari terlahirnya zaman dengan berbagai macam
disiplin ilmu pada peradaban modern. Dalam kasus tersebut, HB menunjukkan
sejumlah tokoh Muslim yang sebenarnya adalah karya mereka diplagiasi oleh
sarjana barat, yang mengaku sebagai penemunya, padahal sebatas plagiasi, atau
mengembangkan dari apa yang sudah ada pada para pemikir Muslim. Diantara tokoh
Muslim itu, 1) Ali al-Hasan ibn Haitsam (965-1038), seorang alhi optika,
matematika, astronomi dan filsafat; 2) Abu Musa Jabir ibn Hayyan (770-777),
seorang ahli kimia Muslim yang juga amat menekankan bukti empiris untuk
menopang kebenaran suatu teori; 3) Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya al-Razi
(866-909), seorang sarjana kedokteran dan ahli kimia terbesar; 4) Abu Ali
al-Husain ibn Sina (980-1037), seorang filsuf, dokter dan ahli kedokteran
terkemuka; 5) Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (780-850) adalah perintis
aljabar; dan 6) Omar Khayyam, seorang
aljabar juga, namun lebih tinggi daripada Euclides dan al-Khawarizmi. Sebuah
kemirisan, bahwa yang hilang dari umat Muslim adalah spirit positif untuk terus
menggali, melalui ijtihad, dengan menggunakan akalnya dalam menyelidiki
fenomena alam, hukum-hukumnya, yang tak lain adalah sunatullah di muka bumi ini, demi kemajuan-kemajuan umat Muslim.
Bahasan Keempat belas, Kemiskinan, Kemalasan, dan Otoritarianisme. HB, menunjukan beberapa data internasional terkait dengan perbandingan antara hasil penelitian dan indeks sitasi antara negara-negara Islam dan diluar negara Islam. Menuai kemirisan, dimana rendahnya tingkat kemajuan penelitian dan beberapa atribut dalam penelitian negara-negara Muslim, meskipun pada bagian akhir tulisan ini memaparkan beberapa proyek besar dan sedikit bukti capaian dari beberapa negara Muslim dalam sumbangannya terhadap penelitian. Namun, tanpa menutup mata, saat ini negara Muslim sedang kalah saing, atau baiknya dikatakan sedang berkembang untuk masa depan, hal tersebut dinilai berasal dari beberapa sebab, yang oleh HB dijelaskan bahwa: pertama, sebagian besar negara Muslim termasuk di antara negara-negara relatif miskin, sehingga lebih memprioritaskan berbagai program jangka pendek guna mengatasi masalah-masalah kebutuhan dasar dan mendesak; kedua, sebagian dari negara Muslim memang termasuk kedalam kelompok negara-negara kaya. Akan tetapi, alih-alih membangun kemandirian di bidang sains dan teknologi, mereka lebih suka menjadi konsumen barang jadi. Ketiga, kurangnya kebebasan di negeri-negeri Muslim akibat sistem politik otoritarian yang dikembangkan di sebagian besarnya, padahal mudah diduga, kreativitas dan inovasi hanya mungkin berkembang di negara-negara demokratis. Keempat, ketidakstabilan politik di banyak negara Muslim akibat kencenderungan berkonflik di antara mereka sendiri, di samping campur tangan negara-negara adidaya atas mereka demi kepentingan poitik dari negara-negara adidaya tersebut. Dan kelima, rendahnya kualitas pendidikan masyarakat di negara-negara Muslim tersebut, baik dari infrastruktur, sumber daya pendidikan, maupun policy kependidikan pada umumnya.
Bagian Kedua,
Ulil Abshar Abdalla (UAA)
UAA, yang terposisi dalam bagian kedua, bahasan kelima belas
sampai dua puluh lima, langsung menukik pada pembahasan seputar topik dari
hasil tulisannya, yakni
Bahasan
Kelima Belas, Antara Sains dan
Soto. UAA mengawali topik dengan menyadur statemen para pendukung sains
“perbedaan mendasar antara sains dan agama adalah bahwa dalam sains, seorang
saintis akan dengan gembira menyambut koreksi dan kritik oleh sesama koleganya
manakala teori yang ia ajukan terbukti salah; atau, dalam istilah filsuf Karl
Popper, “difalsifikasi.” Dia tidak akan mengafirkan saintis lain yang telah
mengoreksinya, apalagi melaporkannya ke dewan inkuisi untuk diadili.” Hujah
itu, bagi UAA adalah bentuk kepongahan saintis, meskipun sejarah berbicara
pertikaian antar sekte atau madzhab dalam agama tersendiri, bukan berarti sains
pun tidak ada sejarah pertikaian di dalamnya. Dalam hal ini, sebab pertikaian,
mengafirkan dan bahkan perang berdarah-darah, tak lain dan tak bukan dalam apa yang
ada diberbagai madzhab adalah menyentuh ranah –dalam bahasa Lutheran Paul
Tillich sebut sebagai– the ultimate
concern, hal yang bergitu mendalam
memengaruhi psyche, jiwa, dan emosi
manusia karena menyangkut pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup. Perbedaan
dalam the ultimate concern memang
rawan menimbulkan konflik, karena menyangkut emosi yang terdalam pada diri
manusia. Sementara watak sains berbeda, lebih bersifat rasional dan cenderung
tidak menyentuh ranah emosi manusia yang terdalam. Jadi, tidak akan mungkin ada
yang membela mati-matian sebuah teori jika terbukti salah. UAA, memberi contoh
ktika ada dua orang satu daerah sama, menyampaikan argumen tentang sebuah soto,
ada yang mengatakan bahwa soto Lamongan lebih lezat, yang lain menyatakan soto
Bangkonglah yang lezat, namun keduanya tidak sampai pada pengafiran, atau
konflik berdarah-darah untuk mempertahankan argumennya, tak lain karena
perbedaan soto tidaklah menyentuh ranah kesadaran terdalam manusia. Dan masih banyak contoh lain dalam kehidupan,
untuk meng-counter pernyataan sainis
di awal, UAA menyodorkan kasus perbedaan dalam forum bahtsul masa’il dalam merumuskan sebuah fatwa, toh tidak sampai
pada tataran konflik berkepanjangan. Lebih lanjut, sejarah mencatat peristiwa
perang dingin, antara kubu kapitalisme versus komunisme. Artinya, pernyataan
saintis di awal adalah bentuk kepongahan tersendiri ketika menilai sains lah
yang paling beradab dalam hal perbedaan, ketimbang di luar sains yang
menimbulkan efek pengafiran dan perang berdarah-darah.
Bahasan
Keenam Belas, “Qubtisme” dan
Kepongahan Saintifik. Agaknya, pointer topik kali ini, UAA menjelaskan tentang
kepongahan Qutbisme dan Saintisme. Qutbisme sendiri merujuk pada sosok Sayyid
Qutb, seorang ideolog Ikhwanul Muslimin yang mati digantung oleh Presiden
Mesir, Gamal Abdul Nasser, pada tahun 1966 karena pendangan-pandangannya yang
menghasut umat Islam untuk melawan pemerintah yang dianggapnya kafir dan thaghut. Istilah, Qutbisme yang dipakai
oleh UAA, untuk menunjukan sebuah cara pandang terhadap segala sesuatu yang
ditandai dengan banyak hal, diantaranya 1) kepongahan yang terbit karena
seseorang “merasa” telah memegang kebenaran mutlak; dan 2) self-righteousness, yaitu perasaan paling “saleh” sendiri,
sementara orang lain berada di “lorong kesesatan” dan karena itu perlu
diselamatkan. Sedangkan saintisme disebut sebagai pandangan yang melihat sains
modern –terutama sains dalam pengertian ilmu-ilmu kealaman– sebagai model
paradigmatis bagi pengetahuan manusia yang paling sempurna, karena memberikan
dasar-dasar pegetahuan yang pasti dengan berbasais data-data empiris. Kedua
aliran inilah yang tidak disukai oleh UAA, sedang sains dan ajaran agama itu
sendiri tidak termasuk kedalamnya. Singkatnya, apapun itu, UAA menolak bentu
kepongahan dalam segala hal kehidupan.
Bahasan
Ketujuh Belas, Tentang
Korelasionisme. Filsafat Prancis, Quentin Meillassoux, yang menulis buku After Finitude, dimana salah satu
gagasanya yang mengkritik “korelasionosme.” Menurutnya, dunia bisa ada dan
memiliki qualities pada dirinya
sebelum ada manusia. Jalan untuk mengetahui qualities
segala sesuatu pada dirinya sendiri, ada atau tak ada manusia, menurut
Meillassoux, adalah melali matematika. Baginya, matematika adalah sejenis
realitas sesuatu pada dirinya sendiri yang independen dari manusia (filsuf
Muslim biasa menyebutnya: al-‘alam
al-khariji). Menanggapi hal tersebut, UAA menangkapnya sebagai upaya
“membunuh manusia,” setelah sebelumnya berupaya membunuh Tuhan. Sebab, selama
manusia belum dibunuh, kemungkinan bahwa Tuhan atau metafisika tradisional baik
lagi ke panggung sejarah akan terus ada. Dan filsafat barat tampaknya memiliki
trauma terhadap Tuhan. Kembali kepada “korelasionisme,” sains baru bisa
mengungkap satu lapis rahasia natural, dengan metode tertentu, dan dengan
mengandaikan bahwa rahasia ini terungkap dalam relasi antara objek dan subjek
(manusia). Sedangkan, jika digunakan term para sufi, sir al-asrar (rahasianya rahasia), belumlah dapat ditembus oleh
sains, lapisan sesuatu pada dirinya
sendiri.
Bahasan
Kedelapan Belas, Outgrowing God (1):
Tentang Ateisme Baru. Outgrowin God,
adalah judul buku terakhir yang ditulis oleh Richard Dawkins, yang mendakwakan
ateisme atau tepatnya new atheism (ateisme
baru). Dia menulis buku The God Delusion,
untuk mematahkan argumen keberadaan Tuhan dengan kata lain, buku ini
mengarahkan secara ramai-ramai meninggalkan agama, dikarenakan konsumen dan
atau titik incaran buku ini adalah anak muda, mirisnya kebanyakan anak muda
yang notabene Islam pun tak absen mengkonsumsinya diberbagai negara. Melihat
fenomena praktik keagamaan yang jauh sekali dari kata ideal, sebagaimana
penyampaian para dai ketika di atas mimbar, hal inilah yang menjadi latar belakang
kemuakan terhadap praktik keagamaan, kalau bukan sepeti Islamophobia. Bagi Dawkins dan kawan-kawannya, saat ini, agama
telah berubah menjadi racun yang mengotori kehidupan publik, karena itu harus
dilawan dengan “dakwah tandingan,” itulah dakwah untuk menyebarkan ateisme
baru. Agama, bagi Dawkins, asalah sisa-sisa dari masa kanak-kanak manusia
sebelum peradaban mereka maju. Istilah kunci yang dipakai oleh Dawkins adalah outgrowing: tumbuh dewasa melampaui
tehap ketidakdewasaan. Dengan kata lain, beragama adalah a failure in growing up, gagal dewasa.
Bahasan
Kesembilan Belas, Outgrowing God (2):
Betulkah Orang Beragama Gagal Dewasa? Topik kedua ini membalas apa yang telah
disampaikan melalui gagasan Dawkins terhadap kegagalan dewasa bagi para
penganut agama. Singkat cerita, UAA menampilkan sejarah panjang, pelik dan
menarik dari sebuah proses pendewasaan –kata Dawkins– dalam menyoroti agama,
dimana telah terjadi dialektika dalam perkembangan agama, secara intelektual
maupun ideologis dan sebagainya. Untuk kemudian, telah diadakan dialog antar
agama di belahan negara, melalui berbagai agama dan bahkan kebudayaan atau
kepercayaan lokal, seperti banyak dijumpai di Indonesia, adalah bentuk ekspresi
kedewasaan dalam hal agama. Bisa saja, Dawkins ini, terdeteksi belum membaca
sejarah, dan atau lebih kasarnya lagi bersifat pongah. UAA menyampaikan
setidaknya ada dua kesalahan yan dilakukan oleh Dawkins dan kawan-kawannya,
yakni 1) Ia mengasumsikan bahwa agama da masyarakat beragama adalah statis,
mandek, tidak mengalami perkembangan dan pendewasaan; dan 2) sains (dalam
pengertian ilmu-ilmu kealaman) dengan sendirinya akan meniscayakan seseorang
untuk meninggalkan agama. Baginya, hanya tersedia dua pilihan: agama atau
sains. Jika memilih agama, Anda bodoh, belum dewasa, belum outgrowing. Jika memilih sains, Anda dewasa, matang, dan harus
meninggalkan agama. Pandangan Dawkins ini hanya mewakili satu model saja dalam interface dan hubungan antara agama dan
sains. Dawkins mewakili model konflik dalam hubungan ini. Tetapi, model ini
bukanlah satu-satunya.
Bahasan
Kedua Puluh, Argumen Keberadaan
Tuhan untuk New Atheists. Dalam topik
kali ini, UAA menjelaskan tentang new
atheist, dengan pendahuluan yang melatar belakanginya, dikarenakan beberapa
fenomena praktik keagamaan secara brutal dalam agama, seperti kasus ISIS.
Namun, argumen-argumen yang dilontarkan oleh new atheist untuk menyangkal keberadaan Tuhan, adalah rapuh dan
sama sekali menggelikan. Jika kita lihat, Pertama,
sebagaimana sudah banyak dikemukakan oleh para pengkritis Dawkins, sains dan
pengetahuan kealaman tidak akan bisa membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan.
Dimana fondasi utama sains adalah empirisme: segala hal hanya bisa dikatakan
“ada” atau “tidak ada” jika ia bisa dikonfisrmasi oleh data dan bukti empiris.
Pertanyaannya, jika sains, dengan metode seperti itu, bagaimana mungkin bisa
sampai pada kesimpulan tentang ada tidaknya Tuhan? Padahal Tuhan tidaklah
dapat dibuktikan ada atau tidaknya
dengan metode seperti itu, Tuhan bukan data empiris. Kedua, sains menjelaskan kemunculan kehidupan (origin of life) melalui apa yang disebut sebaga teori evolusi. Menurut
teori ini, semua kehidupan lahir melalui proses mutasi dan variasi yang
bersifat “random,” acak, seperti acaknya sekeping dadu yang dilempar ke papan
permainan, Tuhan tidak ada campur tangan dalam proses yang bersifat natural
ini. Pernyataan semacam ini, menurut UAA
adalah sangat tidak masuk akal, secara molekuler, semua makhluk hidup adalah
“sistem” yang amat kompleks dan canggih. Ia beroperasi dengan mengikuti hukum
tertentu yang sama sekali tidak acak. Struktur molekuler yang menjadi fondasi
makhluk hidup (DNA) adalah sistem informasi yang begitu rapi.
Bahasan
Kedua Puluh Satu, Hubungan Agama dan
Sains. Menengok hubungan antara agama dan sains, maka diperlukan pemahaman
tentang dua tradisi dalam sains. Tradisi itu tercermin dalam dua sisi, yakni
tradisi Aristotelian dan tradisi Demokratian. Tradisi pertama, mempunyai kosep
akan adanya Tuhan dalam mengatur segala sistem yang ada, sehingga Tuhan lah
penggerak alam ini, al-muharrik atau prima causa. Nah, tradisi aristotelian
inilah yang diambil dan dikembangkan para fislsuf Muslim sepanjang zaman
klasik. Sedangkan tradisi Demokratian, yang menemukan adanya atom, menjauh dan
atau tidak percaya akan Tuhan sebagai penggerak alam ini, yang menurutnya cukup
dijelaskan dengan hukum-hukum alam sendiri dan tidak membutuhkan penjelasan
Tuhan. Kemudian , untuk model hubungan agama dan sains, menuai beberapa sisi,
diantaranya ada yang bersifat konflik, independensi, ada dialog, dan ada
integrasi. Menurut UAA, bahwa model hubungan agama dan sains yang bersifat
konflik hanya terjadi di daratan Eropa Barat, dengan segala sejarah kelamnya,
tidak dengan daerah lain, sebagaimana Islam pun sangat welcome terhadap sains. Tentu kita pahami bersama, bahwa sejarah
antara agama dan sains di Eropa Barat adalah sejarah yang memilaukan bagi
mereka, sehingga wajar saja hubungannya bersifat konflik. Sekali lagi, diluar
Eropa Barat, hubungannya biasa-biasa saja, bahkan malah mendukung satu sama
lain dalam memajukan peradaban manusia.
Bahasan
Kedua Puluh Dua, Pandangan Filsuf
Muslim terhadap Sains: Perspektif Al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, sains itu ada
6 bagian di dalamnya. Pertama, riyadhiyyat atau matematika kalau bahasa
sekarang. Kedua, manthiqiyyatatau ilmu logika, yakni ilmu yang mengatur orang
berpikir secara benar. Ketiga,
Thabi’iyyat atau ilmu fisika yang di dalamnya ada biologi dan astronomi.
Kata al-Ghazali, ketiga ilmu ini tidak ada urusannya dengan agama, kita terima
total isinya, karena sesungguhnya tiga ilmu itu netral. Keempat, ilahiyyat,
tenang konsep ketuhanan. Kelima dan keenam, akhlaqiyyat dan siyasiyyat.
Akhlaqiyyat artinya filsafat moral, dengkang siyasiyyat filsafat politik, bagimana cara mengatur negara. Kata
al-Ghazali, secara garis besar, ilmu orang Yunani yang terkait dengan akhlaqiyyat dan siyasiyyat itu tidak
bermasalah. Yang menjadi masalah adalah ilmu filsafat yang spesifik, yaitu ilahiyyat, yakni terkait dengan
pandangan orang Yunani mengenai masalah ketuhanan. Itu menjadi masalah dari
sudut pandang akidah Islam. Salah satu contohnya, ketika para saintis Yunani
mengatakan bahwa alam bersifat qadim,
tentu itu bersebrangan dengan akidah Islam. Karena itu, al-Ghazali megatakan
dalam kitab al-Munqidz min al-Dhalal,
yakni orang-orang belajar sains itu harus berhati-hati, jangan sampai karena
sikap husnuzhan kepada para saintis
yang ilmunya seolah-olah bisa menjelaskan segala hal, maka apa pun yang
dikatakan oleh saintis –termasuk dalam masalah teologi– diterima semua bergitu
saja. Seolah-olah semua yang dikatakan para saintis itu kekuatan hujahnya itu
semua setara. Alhasil, al-Ghazali menyampaikan bahwa ilmu-ilmu yang berdasarkan
data empiris maupun data rasional status keagamaannya adalah fardhu kifayah, kalau tidak ada orang
Islam yang belajar ilmu ini sama sekali, maka semua orang Islam ikut berdosa.
Bahasan
Kedua Puluh Tiga, Jangan Pertentangkan
Agama dan Sains! sebenarnya, mempertentangkan agama dan sains adalah kegelian
tersendiri, karena sains (baca: ilmu pengetahuan) itu pun bukanlah hasil
orisinil dari diri manusia, melainkan derivatif, turunan dari sumber yang lain,
yakni Tuhan. Jadi, ada jalan yang harus dilalui atau ditepuh dalam memperoleh
ilmu, sebagaimana dijelaskan oleh ushuliyyun
(ulama yang mengkaji filsafat hukum Islam). Yang pertama adalah jalan dharuri,
yaitu ilmu-ilmu ya diperolah secara spontasn tanpa harus menalar (istidlal). Yang kedua adalah jalan iktisabi,
yaitu ilmu-ilmu yang harus direbut dengan usaha keras melalui proses penalaran.
Dengan pemahaman seperti ini, para hukama
(filsuf) dan ulama Islam di era klasik tak pernah mempertentangkan antara
ilmu-ilmu yang berbasis wahyu dan ilmu-ilmu empiris yang bersumber dari
observasi.
Bahasan
Kedua Puluh Empat, Perlunya Beragama yang
“Intelek.” Bagian ini menjelaskan tentang sebuh perkumpulan atau acara di TIM
(Taman Ismail Marzuki), pidato Nurcholis Madjid (Cak Nur) tentang gagasan
beliau untuk membedah pemikiran para fundamentalisme Muslim yang bergeliat kala
itu. Pidato dibungkus dengan gaya bahasa melalui beberapa bahasa, Arab,
Inggris, Pesia, dan Perancis. Cak Nur berbicara panjang-lebar tantang fenomena
fundamentalisme agama serta kekerasan atas nama Tuhan. Dia kemudian merumuskan
gagasan tentang Islam yang hanif (lurus-tulus),
samhah (lapang), dan toleran dengan
struktur argumen yang canggih, memukau dan ditulisdalam bahasa yang elegan.
Menurut UAA, Islam hadir dalam sejarah bukan saja sebagai agama, tetapi juga
sebagai peradaban ilmu. Dan peradaban inilah yang mesti kita bangkitkan lagi
sekarang. Hanya satu yang kita butuhkan, kurangi rasa inferioritas di hadapan
kehebatan intelektual Barat. Pemikir Muslim harus membangun kepercayaan diri
kembali bahwa peradaban ilmu yang diwariskan raksasa-raksasa seperti al-Ghazali
itu bisa diteruskan dan dikembangkan lagi.
Bahasan
Kedua Puluh Lima, Jangan Juga Rendahkan
Cara Beragama Orang Awam. Poin terakhir dari tulisan UAA, bahwasanya cara
beragama yang intelek memang diperlukan sesuai dengan tuntunan zaman sekarang.
Akan tetapi, beragama dengan versi orang awam pun janganlah dipandang sebelah
mata, bisa jadi, cara beragama orang awam di ruan sunyi yang jauh dari hiruk
pikuk “parade sosial,” jangan-jangan justru memiliki kualitas beragama yang
jauh lebih mendalam. Sebagaimana, kokon katanya, Imam al-Fakhruddin al-Razzi
(w. 1210), pengarang raksasa Mafatih
al-Ghaib, konon melontarkan kalimat bernada keluhan di ujung hayatnya,
menjelang meninggal. Dia berbisik lirih kepada orang-orang di sekitarnya: Andai
aku bisa beragama dengan sederhana seperti beragamanya orang-orang awam itu. Allahumma imanan ka iman al-‘aja’iz.
Intisari Buku Secara Keseluruhan
Pada dasarnya, dua bagian yang ditulis oleh dua tokoh
masing-masing dengan coraknya tersendiri, saling beririsan dalam satu tujuan,
tetapi melalui awal jalan yang berbeda, mempunyai kesepakatan bahwa antara
agama dan sains, sains dan agama itu tidak ada permasalahan dalam mencari
kebenaran, menjelaskan fenomena, menjelaskan Tuhan dan perihal seputar diantara
term tersebut. HB, melalui epistemologi
sains, yang kemudian mengaitkan tentang sejarah dan apa yang berlalu terhadap
agama, mencoba untunk menjelaskan keramah-tamahan antara saintis dengan ajaran
agama, sejak masa klasik sampai modern, sejak para filsuf Muslim abad
pertengahan sampai dengan sekarang. Begitupun, UAA yang lebih bersifat
keagamawan, menyoroti hubungan agama dan sains sebagai satu kesatuan yang utuh,
tidak ada hal yang mengganjal diantara mereka, hanya dataran Eropa Barat
sajarah menuai ketidakharomisan dengan segala kemelut sejarah dan pemikirannya,
bukan dengan agama, tokoh dan pemikiran para filsuf Muslim. Kedua jalan
tersebut, adalah keniscayaan akan heterogenitas manusia, dan makhlauk lain
dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam buku ini, seputar sains, filsafat,
dan agama.
Penilaian
Terhadap Buku
Kelebihan
Buku
Buku ini mengajarkan bagi para pembaca, khususnya apa
yang sedang terjadi dalam problematika dewasa ini, dimana sedang diguncang
eksistensi sains (ilmu alam) terhadap kehidupan. Dari sudut pandang agama,
manusia yang kering spiritual, terlebih para fundamentalisme agama, untuk
menjelaskan bagaimana jalan dan atau model hubungan agama dan sains bukanlah
satu-satunya model konfilk saja yang tampil, melainkan dengan model
keharmonisan dan welcome antara agama
dan sains. Sebagaimana sejarah dan apa yang terjadi saat ini tidaklah terlepas
dari buah hasil pemikiran dan karya para filsuf Muslim masa lalu. Jadi, kehadiran buku ini sangatlah
penting dan mempunyai keunggulan tersendiri, dikemas melalui bahasa simpel,
tidak berbelit-belit melalui pengukitan sana-sini, terlebih melalui bunga
rampai yang beralur (menjelaskan sebab, sejarah, poin utama hubungan agama dan
sains, sampai pada kesimpulan untuk membuka kembali mata yang anti agama,
maupun anti sains), adalah keniscayaan untuk dienyah dan dijadikan koleksi bagi
pencinta ilmu, siapapun itu.
Kekurangan
Buku
Jika ditelisik lebih jauh, tentulah hasil karya tidaklah
terlepas dari worldview si penulis
itu sendiri. Yang hendak saya sampaikan adalah adanya beberapa bagian, yang
tentunya kurang sepakat dalam penarikan kesimpulan dan atau menyajikan fakta
sejarah, pemikrian atau sejenisnya, hal ini bisa ditelisik dari beberapa topik
bahasan mengenai beberapa tokoh yang ditampilkan. Singkatnya, apa yang
disampaikan penulis dalam buku ini pun, sebenarnya masih bersifat dialektis
dalam memahami hasil sebuah pemikiran tokoh masa lalu. Jadi, perlunya bagi
pembaca, untuk memahami tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam buku ini, dan lebih
lugas lagi, memahami siapa penulis buku dengan basis background-nya tersendiri.
Kesimpulan dan
Rekomendasi
Buku ini mengajarkan pembaca untuk lebih dewasa dalam memahami sebuha persoalan, sebagaimana hubungan antara agama dan sains. Apa yang muncul belakangan ini mencoba untuk membenturkan antara agama dan sains, maka kehadiran buku ini adalah jalan bagus dalam memahami secara lebih luas, halus, dan tampil memberi solusi. Melalui dua jalan yang bersatu padu pada muara kebenaran, dengan domainnya masing-masing, agama dan sains, adalah anugerah dari Tuhan. Buku ini menampilkan sejarah, tokoh beserta hasil pemikirannya, dan dialektika yang terjadi dalam pada agama dan sains, dikemas dengan bahasa renyah dan mengalir tanpa membosankan. Namun, tidaklah ada gading yang tak retak, dengan penuh apresiasi terhadap buku ini, saya merekomendasikan bagi pembaca lain untuk terlebih dahulu membaca dan memahami sejarah (beserta pola yang terjadi, sosial-politik, dan titik tekannya), tokoh dan hasil pemikirannya, serta apa yang ditampilkan dalam buku ini dalam kaitannya mengkontekstualisasikan terhadap dilema zaman sekarang. Untuk itu, minimal pahamilah sejarah perkembangan ilmu beserta perangkatnya (Islamisasi ilmu pengetahuan dan Islam sebagai ilmu). Untuk selanjutnya, karya haruslah diapresiasi penuh bagi siapapun, tanpa menutup diri terhadapnya, disamping keniscayaan akan analisis-kritik, maka marilah membaca buku ini, bagi pencari ilmu, siapapun itu.


0 komentar:
Posting Komentar
Silakan