![]() |
| foto oleh bobby agung prasetyo / m.klildokter.com id |
Beberapa
tahun silam, saya dipertemukan dengan sebuah kalimat motivasi yang tertera dari
salah satu koleksi buku pribadi, judulnya The
beautiful of question. Sebuah kalimat yang dikutip dari salah satu filsuf
untuk sebuah jawaban mendalam bagi setiap pembaca, “Hidup untuk makan, atau
makan untuk hidup?”
Pernahkah
anda menyaksikan seseorang yang tidak makan dalam beberapa hari, kemudian dia
meninggal? Atau sebaliknya, lebih sering mana anda menyaksikan seseorang yang
menjual hidupnya untuk menuruti keinginan perutnya? Berapakah perbedaan
prosentase dari kedua kondisi tersebut?
Di
era yang semakin maju, yang mana segala kebutuhan secara cepa dapat dipenuhi,
banyak terjadi inovasi diberbgai segi kehidupan, seperi dalam dunia pendidikan
dengan pola belajar mengajar e-learning,
yang menekankan pada pendidikan jarak jauh melalui media internet. Kemudian di
dalam industri makanan, banyak Inovasi terhadap rasa, bentuk, dan berbagai hal
terkait dengannya. Tentunya hal ini merupakan kabar baik. Tetapi apakah model
makanan dan minuman yang semakin bervariasi ini benar-benar sehat?
Gaya hidup serba instan kini membuat masyarakat
lebih menyukai makanan yang penyajiannya cepat, sederhana dan nikmat walaupun
memiliki kandungan yang nggak sehat. Semakin menjamurnya restoran dan
kedai yang menyajikan makanan cepat saji namun nggak memiliki kandungan gizi
yang seimbang menjadi pertanda bahwa junk food menjadi kegemaran
masyarakat.
Junk food atau yang berarti makanan rendah-gizi adalah istilah untuk makanan yang
nggak sehat atau memiliki sedikit kandungan nutrisi. Junk food juga bisa
disebut sebagai makanan nirnutrisi. Namun makanan ini lebih memikat dibanding
makanan alami yang diproses secara alami pula.
Berdasarkan badan kesehatan dunia WHO, ada sepuluh jenis junk food
yang perlu dihindari karena jika dikonsumsi akan mengganggu kesehatan. Junk
food tersebut adalah:
- Gorengan. Gorengan mengandung kalori, lemak, dan oksidan. Di mana hal tersebut dapat menimbulkan, obesitas, penyakit jantung koroner, hingga kanker. Kanker dapat disebabkan karena zat karsinogenik dihasilkan dari proses penggorengan.
- Mi instan dan makanan cepat saji (fast food). Jenis makanan ini mengandung garam dalam jumlah sangat tinggi. Kadar garam yang tinggi mengandung translipid yang dapat memperberat beban ginjal dan pembuluh darah jantung, serta menaikkan tekanan darah.
- Jeroan dan daging berlemak. Daging berlemak dan jeroan mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, tumor ganas, dan kanker.
- Asinan. Jumlah garam yang melebihi batas akan memberatkan beban ginjal, merusak selaput lendir lambung, merusak usus, memperbesar resiko tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Amonium nitrit yang sering ditambahkan dalam proses pengasinan dapat menimbulkan risiko kanker hidung dan tenggorokan.
- Daging olahan seperti bakso, sosis, nugget, ham, kornet, dan lain-lain. Makanan jenis ini mengandung garam nitrit yang berisiko menimbulkan kanker. Pengawet dan pewarna berisiko bagi hati serta natrium yang memperberat kerja ginjal.
- Makanan yang dipanggang atau dibakar. Makanan ini jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi dan jangka waktu lama maka akan memperbesar risiko penyakit kanker.
- Sajian manis beku seperti es krim, dan frozen cake. Junk food jenis ini mengandung kadar gula tinggi yang menyebabkan obesitas.
- Manisan kering. Mengandung garam nitrit yang jika bergabung dengan amonium di dalam tubuh dapat menghasilkan zat karsinogenik yang akan merusak organ-organ tubuh, terutama hati.
- Makanan kaleng. Kandungan vitamin dan protein makanan dalam kaleng lebih sedikit dibandingkan dengan yang alami. Hal ini menurunkan nilai gizinya.
- Olahan keju. Makanan olahan keju jika dikonsumsi dalam jumlah banyak akan menambah berat badan, menaikkan kadar lemak dan gula darah.
Pernahkah kita sadari bahwa
orang-orang zaman dulu bias mencapai umur yang minimal 60 keatas? Sedangkan di
abad ke-21 ini sudah sedikit atau bahkan jarang sekali dan sulit kita jumpai
seseorang yang berumuh lebih dari 60 tahun namun masti terlihat sehat bugar?
Bila kita te;isiki, maka dapat
diambil pelajarannya bahwa salah satu tips unutk menjaga kebugaran adalah
dengan pola makan yang sesuai, seimbang, dan secukupnya. Pola makan itu mengacu
pada salah satu ajaran Islam yang tertera pada teks redaksi berikut:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari
perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan
tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat
memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga
lagi untuk nafasnya.” HR. Ahmad (IV/132)
Artinya, makan adalah sebuah kebutuhan dasar manusia, namun makan secukupnya adalah investasi terbaik untuk masa mendatang tatkala umur sudah banyak / tua. Dengan sedikit makan akan menumbuhkan fisik yang kuat jiwa yang tabah.


0 komentar:
Posting Komentar
Silakan