, ,

Stratifikasi Sosial

A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Realitas kehidupan di masyarakat dapat dikelompokkan ke dalam berbagai kategori, mulai dari lapisan yang paling atas sampai yang paling bawah. Dengan demikian terjadilah stratifikasi sosial. Ada masyarakat yang mempunyai stratifikasi sosial yang sangat ketat. 

Ahli sosiologi berpendapat bahwa dalam semua masyarakat memiliki ketidaksamaan di berbagai bidang. Pada bidang politik, sebagian orang memiliki kekuasaan dan sebagian lainnya dikuasai. Inilah realitas sosial dalam masyarakat, yang dapat tangkap oleh pemerintah dan daya pikir manusia.

                                             

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan stratifikasi sosial?

2.      Apa yang menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial?

3.      Bagaimana kaitan antara pendidikan dan stratifikasi sosial?

4.      Bagaimana pendidikan sebagai mekanisme diferensiasi sosial?

                                          

C.     Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian stratifikasi sosial.

2.      Untuk mengetahui sebab terjadinya stratifikasi sosial.

3.      Untuk mengetahui kaitan antara pendidikan dan stratifikasi sosial.

4.      Untuk mengetahui pendidikan sebagai mekanisme diferensiasi sosial.

 

A.    Pengertian Stratifikasi Sosial

Secara etimologis, istilah stratifikasi atau stratification berasal dari kata strata atau stratum yang berarti “lapisan”. Karena itu social stratification sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat. Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum.

Dalam kamus sosiologi dijelaskan, stratifikasi sosial adalah pelapisan sosial atau sistem hierarki kelompok didalam masyarakat. Jadi pengertian stratifikasi sosial secara etimologis adalah pelapisan dalam masyarakat secara hierarki yang dipengaruhi oleh beberapa unsur.

Secara terminologi, stratifikasi sosial adalah merujuk kepada pembagian orang ke dalam tingkatan atau strata yang dapat dipandang berbentuk urutan vertikal, sama seperti lapisan-lapisan bumi ada yang terletak di atas dan di bawah lapisan tanah lainnya.

Fuad Hassan mendefinisikan stratifikasi sosial adalah strata atau pelapisan orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian kesatuan status sosial.[1] Sedangkan Soerjono Soekanto, mendefinisikan stratifikasi sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.[2] Para anggota strata sosial tertentu seringkali memiliki jumlah penghasilan yang relatif sama. Namun lebih penting dari itu, mereka memiliki sikap, nilai-nilai, dan gaya hidup yang sama. Semakin rendah kedudukan seseorang didalam pelapisan sosial, biasanya semakin sedikit pula perkumpulan dan hubungan sosialnya, orang-orang yang berasal dari lapisan sosial rendah misalnya, biasanya lebih sedikit berpartisipasi dalam jenis organisasi apapun.

 

B.     Terjadinya Stratifikasi Sosial

Terjadinya stratifikasi sosial atau sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Pertama, terjadi dengan sendirinya. Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesenjangan yang disusun  sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya.

Kedua, terjadi dengan sengaja. Sistem pelapisan yang disusun dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Di dalam sistem pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.[3]

Ada dua sifat dari sistem pelapisan dalam masyarakat, yaitu bersifat tertutup dan bersifat terbuka. Pertama, bersifat tertutup. Suatu sistem stratifikasi sosial dinamakan tertutup manakala setiap anggota masyarakat tetap berada dalam status yang sama dengan orang tuanya, entah itu rendah atau tinggi. Kedua, bersifat terbuka. Dalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kemampuan sendiri. Apabila mampu dan beruntung seseorang dapat naik ke lapisan yang lebih atas, atau bagi mereka yang kurang beruntung dapat turun ke lapisan yang rendah.

Dalam teori sosiologi, unsur-unsur sistem pelapisan sosial dalam masyarakat, dapat dikelompokkan ke dalam dua hal, yakni kedudukan dan peran.

1.      Kedudukan (status)

Kedudukan adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut, atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok-kelompok lain di dalam kelompok yang lebih besar lagi.

Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestasinya, hak-hak, dan kewajiban-kewajibannya.

Secara sosiologis, kedudukan dalam masyarakat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

a.      Ascribed-status. Status ini diartikan sebagai kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa  memperhatikan perbedaan seseorang. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran.

b.      Achieved-status. Kedudukan yang diperoleh seseorang dengan usaha-usaha yang sengaja dilakukan, bukan diperoleh karena kelahiran. Kedudukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja tergantung dari kemampuan masing-masing orang dalam mengejar dan mencapai tujuan-tujuannya.

c.       Assigne-status.  Kedudukan yang diberikan. Assigne-status sangat erat hubungannya dengan achieved-status, artinya suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang karena telah berjasa kepada masyarakat.

2.      Peran (rule)

Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Artinya, seseorang telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka orang tersebut telah melaksanakan sesuatu peran. Peran dan status tidak dapat dipisahkan dan saling tergantung satu sama lain, artinya tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran.

Peran dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran sendiri adalah:

a.       Memberi arah pada proses sosialisasi.

b.      Pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma, dan pengetahuan.

c.       Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat.

d.      Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol, sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.[4]

 

C.     Pendidikan dan Stratifikasi Sosial

Pendidikan dalam hal ini, memiliki peranan strategis dalam membentuk stratifikasi sosial.[5] Stratifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya perbedaan dan atau pengelompokkan suatu kelompok sosial (komunitas) secara bertingkat. Misalnya, dalam komunitas tersebut terdapat strata tinggi, strata sedang, dan strata rendah.[6]

Latar belakang munculnya stratifikasi sosial dapat disebabkan adanya perbedaan perlakuan dan pengahargaan masyarakat tehadap suatu yang dimiliki. Setiap masyarakat memiliki suatu yang dihargai, bisa berupa kepandaian, kekayaan, kekuasaan, profesi, kenggotaan keaslian masyarakat, dan lain sebagainya. Selama manusia membedakan pengahargaan terhadap sesuatu yang dimiliki tersebut, pasti akan menimbulkan lapisan-lapisan dalam masyarakat. Semakin banyak kepemilikan, kecakapan masyarakat/ seorang terhadap suatu yang dihargai semakin tinggi kedudukan atau lapisannya, begitupun sebaliknya.[7]

Jika sekolah berdampak terhadap kualitas lulusan pendidikan, dan jika kualitas pendidikan berdampak terhadap lapangan kerja yang diperoleh dan upah atau penghasilan diterima, masa depan anak-anak dari lapisan sosial yang lebih tinngi (menengah atau atas) akan tetap bertahan, maka di sini kualitas sekolah atau pendidikan dapat mempertahankan stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial merupakan gejala sosial yang tidak dapat dihindari dan terdapat di setiap masyarakat manapun di dunia ini. Pandangan dan keperluan mengenai pendidikan, diwarnai stratifikasi sosial. Masyarakat yang menganut sistem sosial terbuka memiliki kesempatan luas untuk berusaha naik ke tangga sosial yang lebih tinggi.[8]

Tanpa kecerdasan, tidak mungkin ia mengadakan refleksi, menganalisis data, berpikir logis dan sistematis, serta dapat mengantisipasi kehidupan masa depan yang lebih baik. Dengan kecerdasan, manusia dapat meningkatkan wawasannya dan menentukan serta mempersiapkan partisipasinya dal pembangunan masyarakat dan bangsanya.[9]

 

D.    Pendidikan sebagai Mekanisme Diferensiasi Sosial

Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.

Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat atau vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah, dan lapisan rendah tetapi perbedaannya itu hanya secara horisontal, perbedaan seperti ini dalam sosiologi dikenal dengan istilah diferensiasi sosial.[10]

 

Kesimpulan

Secara etimologis, istilah stratifikasi atau stratification berasal dari kata strata atau stratum yang berarti “lapisan”. Karena itu social stratification sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat. Sedangkan, secara terminologi, stratifikasi sosial adalah merujuk kepada pembagian orang ke dalam tingkatan atau strata yang dapat dipandang berbentuk urutan vertikal, sama seperti lapisan-lapisan bumi ada yang terletak di atas dan di bawah lapisan tanah lainnya.

Terjadinya stratifikasi sosial atau sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu terjadi dengan sendirinya dan terjadi dengan sengaja.

Pendidikan berkorelasi positif terhadap status sosial seseorang. Menurut penelitian terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya. Walaupun tingkat sosial seseorang tidak dapat diramalkan sepenuhnya berdasarkan pendidikannya, namun pendidikan tinggi bertalian erat dengan kedudukan sosial yang tinggi. Ini tidak berarti bahwa pendidikan tinggi dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi.

Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.

 

Sumber Rujukan

Idi, Abdullah. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Maksum, Ali. 2016. Sosiologi Pendidikan. Malang: Madani.      

https://ajizsulaeman.files.wordpress.com/2015/12/makalah-sospend_ap-1_072115020_ajiz-sulaiman.pdf



[1] Ali Maksum, Sosiologi Pendidikan, (Malang: Madani, 2016), hlm. 119.

[2]https://ajizsulaeman.files.wordpress.com/2015/12/makalah-sospend_ap-1_072115020_ajiz-sulaiman.pdf

[3] Ali Maksum, Sosiologi Pendidikan, (Malang: Madani, 2016), hlm. 119.

[4] Ibid,. hlm. 120-122.

[5] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm.  177.

[6] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 178.

[7] Ibid,. hlm. 182.

[8] Ibid,. hlm. 179-180.

[9] Ibid,. hlm. 183.

[10] https://ajizsulaeman.files.wordpress.com/2015/12/makalah-sospend_ap-1_072115020_ajiz-sulaiman.pdf.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan