,

Michel Foucault: Teori Kuasa-Pengetahuan


Michel Foucault, barangkali merupakan intelektual yang paling terkemuka di dunia. Ia meninggal karena AIDS pada 1984 pada usia 57 tahun. Kemasyhuran tersebut berasal dari karya-karyanya yang memang mengagumkan yang telah memengaruhi banyak pemikir di berbagai bidang, termasuk sosiolohi. Foucault juga melakoni hidup yang sangat menarik dan tema-tema yang menjadi ciri dalam hidupnya juga cenderung menjelaskan karya-karyanya. Pada kenyataannya, bisa dikatakan bahwa Foucault berusaha mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dirinya dan semua kekuatan yang menyebabkannya menjalani kehidupan yang ia jalani melalui karya-karyanya.
Tiga karya Foucault yang terakhir adalah sebuah trilogi yang dicurahkan pada seks – The History of Sexuality (1980a), The Care of the Self (1984), dan The Use of Pleasure (1985). Ketiga karya tersebut mencerminkan obsesi Foucault sepanjang hidupnya dengan seks. Sejumlah besar bagian kehidupan Foucault tampaknya menjelaskan obsesi itu, secara khusus adalah kecenderungannya pada homoseksualitas dan sodomasokisme.[1]
Dua gagasan yang berada di inti metodologi Foucault – arkeologi pengetahuan dan geneologi kekuasaan. Arkeologi pengetahuan melibatkan pencarian atas “serangkaian kaidah yang menentukan kondisi kemungkinan bagi semua yang dapat dikatakan di dalam wacana dan waktu tertentu.” Dengan ungkapan lain, arkeologi adalah pencarian atas “sistem umum penyusunan dan transformasi kenyataan (ke dalam bentuk diskursif).[2] Sedangkan geneologi adalah cara menganalisis berbagai perlintasan wacana, praktik, dan peristiwa yang jamak, dengan akhir yang terbuka, heterogen dan metetapkan hubungan mereka yang terpolakan tanpa perlu menggunakan rezim kebenaran yang mengklaim hukum pseudoalamiah atau kebutuhan global. Dalam hubungan antara kedua metode Foucault, arkeologi melakukan serangkaian tugas dalam rangka melakukan geneologi. Secara spesifik, arkeologi melibatkan analisis empiris terhadap berbagai wacana sejarah, sedangkan geneologi menjalankan analisis kritis dan berturut-turut terhadap wacana-wacana sejarah dan isu-isu penting dalam dunia kontemporer.
Dalam konsepsinya tentang kuasa, Foucault menghindari pemaknaan yang negatif atas kuasa. Maka, yang paling dikenal dari pemaparan Foucault tentang kuasa adalah bahwa kuasa itu menyebar, tidak terpusat pada seseorang atau institusi.[3] Kuasa itu menyebar dalam hubungan-hubungan masyarakat, merupakan tatanan disiplin dan dihubungkan dengan jaringan, memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tapi produktif, serta melekat pada kehendak untuk mengetahui. Bagi Foucault, kekuasaan itu tak ubahnya sesuatu yang melingkupi, namun menghasilkan pengetahuan, bahkan keduanya saling terkait satu sama lain.[4] Foucault memandang bahwa kuasa dan pengetahuan itu seperti dua sisi dari satu uang logam, seperti dua muka dari selembar, tak terpisahkan satu sama lain. Tak ada hubungan kekuasaan yang tidak terkait dengan pembentukan suatu bidang pengetahuan, serta tak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan dan sekaligus membentuk hubungan kekuasaan.
Menurut Foucault, ada lima cara bagaimana kekuasaan beroperasi.[5] Pertama, kekuasaan tidak diperoleh, diambil atau dibagikan, kekuasaan berjalan dari berbagai titik, dalam permainan hubungan yang tidak setara dan selalu bergerak. Kedua, kekuasaan itu cair karena di mana ada perbedaan terbuka hubungan kekuasaan. Hubungan kekuasaan adalah imanen, artinya hubungan kekuasaan adalah efek langsung dari pembagian, perbedaan, ketidaksetaraan dan ketidakseimbangan. Ketiga, hubungan kekuasaan tidak berada dalam posisi suprastruktur. Kekuasaan datang dari bawah, artinya tidak ada oposisi biner antara yang didominasi dan yang dominan. Hubungan-hubungan kekuatan itu banyak dan terbentuk serta bermain di dalam aparat produksi seperti di keluarga, kelompok, institusi, keseluruhan tubuh sosial. Keempat, hubungan kekuasaan itu intensional. Tidak ada kekuasaan tanpa serangkaian sasaran. Rasionalitas kekuasaan adalah taktik yang tersurat pada tingkat terbatas.  Kelima, di mana ada afirmasi kekuasaan, di situ ada resistensi. Resistensi ini bukan berasal dari posisi di luar hubungan kekuasaan. Perlawanan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan melahirkan anti-kekuasaan. Di mana ada afirmasi kekuasaan selalu ada perlawanan, bukan dalam arti kekuatan dari luar atau yang berlawanan, tetapi karena adanya kekuasaan itu sendiri.  
Terakhir, Foucault tertarik pada teknik, teknologi yang berasal dari pengetahuan (terutama pengetahuan ilmiah) dan pada bagaimana teknologi itu digunakan untuk menerapkan kekuasaan atas masyarakat. walaupung ia melihat ada hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan, Foucault tidak melihat adanya konspirasi oleh para elit masyarakat. konspirasi tentunya menyiratkan adanya aktor yang sadar terhadap tindakannya, sedangkan Foucault lebih cenderung melihat adanya hubungan struktural, terutama antara pengetahuan dan kekuasaan.


[1] Rianayati Kusmini P, trans., Teori Sosiologi, 10th ed., 1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019), 724.
[2] Ibid., 720–721.
[3] Alfathri Adlin, “Michel Foucault: Kuasa/Pengetahuan,(Rezim) Kebenaran, Parrhesia,” Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam 1, no. 1 (2016): 18.
[4] Baca lebih jauh contohnya dalam Suci Wulandari, “IDEOLOGI ‘KANCA WINGKING’: STUDI RELASI KUASA PENGETAHUAN DALAM TAFSIR ALHUDA,” Al-A’raf: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat 15, no. 1 (2018): 101–126. Dan Oki Rahadianto Sutopo, “Pengetahuan Dan Relasi Kuasa Global,” MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi (2015): 201–206.
[5] Idaman Idaman, “Relasi Kuasa-Pengetahuan Dalam Sistem Ketatanegaraan Di Kerajaan Konawe Abad Ke-XVII: Telaah Epistemologi Siwole Mbatohu,” Halu Oleo Law Review 3, no. 1 (2019): 140. Bandingkan dengan Abdul Malik, Arya Hadi Dharmawan, and Titik Sumarti, “Konstruksi Sosial Kuasa Pengetahuan Zakat: Studi Kasus Lembaga Amil Zakat Di Propinsi Jambi Dan Sumatera Barat,” Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan 4, no. 2 (2010): 197.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan