Anomali 2. Posisi dan Memposisikan


Ingatkah anda....
Sewaktu kecil ditanya tentang cita-cita?

Menarik sekali bukan, ada yang bercita-cita jadi Presiden, Koki, Polisi, Guru, Dokter, Masinis, dan berbagi macam profesi lainnya. Itu semua tidak keliru, karena wajar saja jika setiap orang mempunyai prospek masa depannya-tentunya yang terbaik.

Alangkah baiknya jika keterwujudan cita-cita itu saling bersinergi satu sama lain, berusaha profesional dalam bidangnya, saling membantu dan saling support sebagai bagian tak terpisahkan.

Semisal, Bu Dokter menyembuhkan seorang Guru karena demam, setelah sembuh, si Guru dapat mengajar kepada murid-muridnya tentang tata tertib dijalan raya, nah pada saat murid-murid pulang sekolah, melewati jalan raya (zebra crossing), Pak Polisi bertugas untuk menyeberangkannya dengan selamat. Disamping jalan raya, ada sebuah rel kereta, disaat bersamaan, terdapat kereta api yang sedang melaju kencang, dikendalikan oleh seorang Masinis handal. Pelayanan di dalam kereta sungguh luar biasa, setiap penumpang diberi makanan lezat hasil olahan seorang Koki ternama, terlebih, seluruh pelayanan kereta api ini difasilitasi oleh negara atas mandat Presiden.

Sampai disini, pertanyaannya adalah....
Jika cita-cita tidak tercapai, dalam artian kondisi sekarang tidak sesuai dari apa yang dicita-citakan dahulu, apakah seseorang itu kehilangan “kehidupannya?”

Tentu tidak, toh kehidupan membutuhkan semuanya bukan?
Apakah kehidupan hanya membutuhkan seorang Presiden saja?
Koki saja?
Guru saja?
Masinis saja?
Polisi saja?
Dokter saja?

So, kita ini diciptakan mempunyai arti-makna tersendiri, dan apakah arti-maknanya itu?
Maka jawabannya kembali pada diri masing-masing, tentu ... sesuai dengan posisi dan bagaimana kita memposisikannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan