Ingatkah anda....
Sewaktu kecil
ditanya tentang cita-cita?
Menarik sekali bukan,
ada yang bercita-cita jadi Presiden, Koki, Polisi, Guru, Dokter, Masinis, dan
berbagi macam profesi lainnya. Itu semua tidak keliru, karena wajar saja jika setiap
orang mempunyai prospek masa depannya-tentunya
yang terbaik.
Alangkah baiknya
jika keterwujudan cita-cita itu saling bersinergi satu sama lain, berusaha
profesional dalam bidangnya, saling membantu dan saling support sebagai bagian tak terpisahkan.
Semisal, Bu Dokter
menyembuhkan seorang Guru karena demam, setelah sembuh, si Guru dapat mengajar
kepada murid-muridnya tentang tata tertib dijalan raya, nah pada saat
murid-murid pulang sekolah, melewati jalan raya (zebra crossing), Pak Polisi bertugas untuk menyeberangkannya dengan
selamat. Disamping jalan raya, ada sebuah rel kereta, disaat bersamaan, terdapat
kereta api yang sedang melaju kencang, dikendalikan oleh seorang Masinis
handal. Pelayanan di dalam kereta sungguh luar biasa, setiap penumpang diberi
makanan lezat hasil olahan seorang Koki ternama, terlebih, seluruh pelayanan
kereta api ini difasilitasi oleh negara atas mandat Presiden.
Sampai disini,
pertanyaannya adalah....
Jika cita-cita
tidak tercapai, dalam artian kondisi sekarang tidak sesuai dari apa yang
dicita-citakan dahulu, apakah seseorang itu kehilangan “kehidupannya?”
Tentu tidak, toh kehidupan
membutuhkan semuanya bukan?
Apakah kehidupan
hanya membutuhkan seorang Presiden saja?
Koki saja?
Guru saja?
Masinis saja?
Polisi saja?
Dokter saja?
So, kita ini diciptakan mempunyai arti-makna
tersendiri, dan apakah arti-maknanya itu?
Maka jawabannya kembali
pada diri masing-masing, tentu ... sesuai dengan posisi dan bagaimana kita memposisikannya.

0 komentar:
Posting Komentar
Silakan