, ,

LOGIKA DAN BAHASA


 
       I.        LOGIKA

A.    Pengertian Logika

Logika adalah bahasa latin dari kata logos yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lain yang digunkan sebagai gantinya adalah mantiq, kata arab yang diambil dari kata kerja nataqa yang berarti berkata atau berucap.

“Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah”.

Logika ialah ilmu berpikir yang tepat, logika sekedar menunjukkan adanya kekeliruan didalam rantai proses pemikiran sehingga kekeliruan itu dapat dielakkan, maka hakekat dari logika dapat pula disebut sebagai teknik berpikir.

B.     Sejarah logika

Pada masa penerjemahan ilmu-ilmu yunani kedalam dunia arab pada abad ke-2 hijriah, logika merupakan bagian yang amat menarik minat kaum muslimin. Selanjutnya logika dipelajari secara meriah dalam kalangan luas, menimbulkan berbagai pendapat dalam hubungannya dengan masalah agama. Ibnu Salih dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari mantiq sampai mendalam. Al-Gazali menganjurkan dan menganggap baik. Sedangkan menurut jumhur ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya.


C.     Pembagian Logika

a.       Macam-macam Logika menurut The Liang Gie (1980) dalam Adib (2010: 102-104) :

1.      Logika dalam pengertian luas dan sempit
Dalam arti sempit logika dipakai searti dengan logika deduktif atau logika formal. Sedangkan dalam arti luas, pemakaiannya mencakup kesimpulan-kesimpulan dari berbagai bukti dan tentang bagaimana sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam serta meliputi pula pembahasan mengenai logika itu sendiri.
2.      Logika Deduktif dan Induktif
Logika Deduktif mempelajari asas-asas penalaran yang bersifat deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan sebagai kemestian dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut bentuknya saja. Sedangkan Logika Induktif mempelajari asas-asas penalaran yang betul dari sejumlah hal khusus sempai pada kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi (probability)[1].
3.      Logika Formal (Minor) dan Material (Mayor)
Logika Formal atau disebut juga Logika Minor mempelajari asas, aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Sedangkan Logika Material atau Mayor mempelajari langsung pekerjaan akal serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang sesungguhnya, mempelajari sumber-sumber dan asalnya pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan itu.
4.      Logika Murni dan Terapan
Logika Murni merupakan pengetahuan mengenai asas dan aturan logika yang berlaku umum pada semua segi dan bagian dari pernyataan-pernyataan dengan tanpa mempersoalkan arti khusus dalam sesuatu cabang ilmu dari istilah pernyataan yang dimaksud. Logika Terapan adalah pengetahuan logika yang diterapkan dalam setiap cabang ilmu, bidang-bidang filsafat, dan juga dalam pembicaraan yang menggunakan bahasa sehari-hari.
5.      Logika Filsafati dan Matematik
Logika Filsafati merupakan ragam logika yang punya hubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat, seperti logika kewajiban dengan etika atau logika arti dengan metafisika. Sedangkan Logika Matematik menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan metode matematik serta bentuk lambang yang khusus dan cermat untuk mengindarkan makna ganda.
b.      Menurut Mundiri[2] (2011: 15-16) macam-macam logika antara lain :
1.      Berdasarkan segi kualitasnya, Logika/Mantiq dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu Logika Naturalis (Mantiq al-Fitri) dan Logika Artifisialis/Ilmiah (Mantiq As-Suri). Logika Naturalis (Mantiq al-Fitri) yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai hukum-hukum logika dasar. Sedangkan Logika Artifisialis/Ilmiah (Mantiq al-Suri) yang bertugas membantu Mantiq al-Fitri. Mantiq ini memperhalus, mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.
2.      Dilihat dari metodenya, dibedakan atas Logika Tradisional (Mantiq al-Qadim) dan Logika Modern (Mantiq al-Hadis). Logika Tradisional adalah Logika Aristoteles, dan Logika dari pada Logikus yang lebih kemudian, tetapi masih mengikuti sistem Logika Aristoteles. Para Logikus sesudah Aristoteles tidak membuat perubahan atau menciptakan sistem baru dalam Logika kecuali hanya membuat komentar yang menjadikan Logika Aristoteles lebih elegan[3] dengan sekedar mengadakan perbaikan-perbaikan dan membuang hal-hal yang tidak penting dari Logika Aristoteles. Logika Modern tumbuh dan dimulai abad XIII. Mulai abad ini ditemukan sistem baru, metode baru yang berlainan dengan sistem Logika Aristoteles. Saatnya dimulai sejak Raymundus Lullus menemukan metode baru Logika yang disebut Ars magna.

D.    Manfaat Logika

Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien[4], tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak manusia mendasarkan diri atas prinsip ini.

           II.                        BAHASA

A.    Pengertian bahasa

Pengertian bahasa secara umum adalah semua sarana berupa isyarat-isyarat, bunyi-bunyi dan ujaran-ujaran untuk mempertukarkan perasaan dan pikiran. Dalam pengertian istilah, bahasa memiliki beberapa arti, diantaranya, bahasa menurut Bussman (2006: 627) adalah sarana untuk (1) mengekspresikan atau mengemukakan pemikiran, konsep, pengetahuan dan informasi dengan tepat dan (2) mentransmisikan pengalaman dan pengetahuan.
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berfungsi untuk komunikasi antar anggota masyarakat yang konvensional[5].
Bahasa merupakan alat berpikir yang apabila dikuasai dan digunakan dengan tepat, maka akan dapat membantu kita memperoleh kecakapan berpikir, berlogika dengan tepat. Dalam pembicaraan yang tidak penting sekalipun lawan bicara kita selalu menuntut penjelasan yang logis.
Bahasa memiliki peran yang sangat esensial dalam konteks logika dan berilmu. Ia sangat membantu namun secara bersamaan juga dapat sangat mencelakakan, yaitu jika penggunaannya tidak tepat. Kegiatan berilmu akan mati bila terjadi kekeliruan penerapan bahasa di antara para penggiatnya. Ini karena bahasa bagi manusia merupakan penrnyataan pikiran atau perasaan yang paling komunikatif. Gerak tubuh dan mimik muka dapat menginformasikan sesuatu, namun sangat terbatas penerapannya.
Bahasa juga penting dalam pembentukan penalaran ilmiah, karena penalaran ilmiah mempelajari bagaimana caranya menyusun uraian yang tepat dan sesuai dengan pembuktian-pembuktian secara jelas. Untuk kelompok tertentu, agar komunikasi diantara mereka lebih efisien dan efektif[6], mereka menciptakan bahasa tersendiri. Mereka menciptakan dan menyepakati kata-kata, baik kata yang diambi dari kata-kata yang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari, atau secara sengaja membuat kata-kata yang baru sama sekali.
Tanpa bahasa manusia tidak mampu berpkir. Bahkan ketika masih “dalam kepalanya”, sebelum diucapkan sekalipun, manusia sudah menggunakan bahasa. Ada tiga fungsi bahasa yang utama, yaitu untuk mengkomunikasikan, mengekspresikan perasaan, dan membangkitkan atau mencegah perilaku tertentu. Adakalanya ketiga fungsi ini dapat dijalankan sekaligus, namun juga dapat terpisah, atau dua diantaranya. Dalam dunia ilmiah, harus dihindari beberapa kesalahan (atau kesesatan), dimana berbahasa secara tepat dan tidak emotif menjadi salah satu pedoman yang harus dipatuhi. Hanya dengan bahasa yang netral, maka informasi  yang disampaikan dapat diterima dengan tepat.
Ketrampilan beragumen, terutama argumen deduktif, merupakan syarat pokok dalam berilmu. Melalui nalar deduktif diperoleh kesimpulan (conclusion) sehingga dapat menyimpulkan apakah sesuatu yang disampaikan dapat dinilai kebenarannya (benar atau salah) dan kevalidannya (valid atau tidak valid).

B.     Karakteristik Bahasa

a.       Bahasa sebagai suatu sistem : artinya bahasa merupakan susunan teratur dan berpola, yang membentuk keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Bahasa selalu terdiri dari unsur-unsur atau komponen–komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu, dan membentuk suatu kesatuan sebagai sistem, yang mau tidak  mau harus diikuti oleh pemakainya[7].

b.      Bahasa sebagai lambang (simbol) : adalah hubungan antara suatu penanda (yang menandai) dengan petanda (yang ditandai atau diberi tanda) yang bersifat konvensional[8] dan arbitrer[9].

c.       Bahas sebagai bunyi : bunyi yang dimaksud adalah ujaran atau ucapan. Bahasa sebagai bunyi karena pada sejarahnya bahasa yang digunakan manusia pertama kali adalah bahasa lisan atau ucapan yang keluar dari alat ucap manusia, bukan bahasa tulisan. Oleh karena itu, bahasa lisan (bunyi) merupakan bahasa primer, yaitu bahasa yang pertama menjadi objek ilmu bahasa (linguistik), sedangkan bahasa tulis adalah bahasa sekunder, yang lahir sebagai bentuk cara yang dilakukan manusia untuk mendokumentasikan atau “merekam” bahasa lisan[10].

d.      Bahasa sebagai alat komunikasi : bahasa selalu digunakan oleh manusia sebagai media untuk menyampaikan informasi (ide, gagasan, dan perasaan) pada orang lain. Hampir dapat dikatakan, manusia dalam interaksi dengan manusia lainnya selalu menggunakan bahasa. Dengan bahasa manusia bisa saling berinteraksi dan berkomunikasi saling menyampaikan ide dan gagasannya.


C.     Fungsi Bahasa[11]
           
Menurut gorys keraf (1997), bila ditinjau kembali sejarah pertumbuhan bahasa sejak awal hingga sekarang, maka fungsi bahasa dapat diturunkan dari motif pertumbuhan bahasa itu sendiri. Dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu dalam garis besarnya dapat berupa :

a.       Bahasa untuk Menyatakan Ekspresi Diri
Ekspresi diri berarti mengungkapkan segala hal yang dirasakan oleh pikiran dan perasaan manusia. Dapat dipastikan, setiap ada gejolak dalam diri, manusia selalu akan mengungkapkan dan mengekspresikannya dengan bahasa, baik verbal maupun nonverbal. Misalnya, saat marah, sedih, dan bahagia selalu diekspresikan dengan bahasa; bisa bercerita, menangis, berteriak, atau tersenyum.
Dalam hal ini, menurut gorys keraf (1997:3), unsur bahasa yang mendorong manusia mengekspresikan dirinya dengan bahasa adalah; 1) agar menarik perhatian orang lain terhadap kita, yaitu bahasa digukanan sebagai alat untuk mencari perhatian orang lain (pasif) terhadap hal-hal yang sedang dirasakan, dan 2) keinginan manusia untuk membebaskan diri dari semua tekanan emosi. Pada sisi ini, bahasa digunakan oleh manusia sebagai media untuk membebaskan diri dari persoalan-persoalan dan tekanan hidup yang dialaminya.

b.      Bahasa untuk Alat Komunikasi

Bahasa digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan diri yang disampaikan kepada orang lain sehingga orang lain bisa merespon dan memberikan masukan-masukan atas persoalan yang sedang dihadapi manusia. Tentu saja, respon berupa ide-pikiran dimediasi dengan bahasa, maka terjadi kegiatan dialog. Kegiatan dialog (yang dilakukan oleh minimal dua orang inilah) melahirkan komunikasi. Dengan demikian, bahasa sebagai alat komunikasi merupakan fungsi bahasa yang bersifat intra-personal karena bahasa digunakan sebagai alat untuk saling bertukar pikiran dan perasaan antarmanusia.

c.       Bahasa untuk Mengadakan Integrasi dan Adaptasi Sosial
Jika komunikasi itu melibatkan dua orang, maka integrasi dan adaptasi sudah melibatkan banyak orang sehingga fungsi bahasa ini bersifat komunal (sosial). Kenyataannya, manusia adalah makhluk sosial-masyarakat (kolektif) yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat inilah, manusia selalu membetuhkan eksistensi[12] untuk diterima dan diakui oleh masyarakatnya. Dalam pembentukan eksistensi itulah, maka manusia akan melakukan integrasi (pembaruan) dan adaptasi (penyesuaian diri) dalam masyarakat, dan selalu, dalam proses integrasi dan adaptasi ini manusia selalu menggunakan bahasa sebagai perantaranya.
Dalam proses ini, dengan bahasa, anggota masyarakat akan mengenal dan belajar terhadap segala adat-istiadat, tingkah laku, dan tata krama masyarakatnya. Ia mencoba menyesuaikan dirinya (adaptasi) dengan semuanya melalui bahasa sehingga bila ia sudah dapat menyesuaikan diri (adaptasi), maka ia pun dengan mudah akan berbaur (integrasi) dengan segala macam tata-krama masyarakat tersebut (Keraf, 1997:5).


d.      Bahasa untuk Mengadakan Kontrol Sosial
Bahasa sebagai kontrol sosial masih merujuk fungsi  bahasa secara sosial-kolektif. Setelah bahasa digunakan seseorang untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan anggota masyarakatnya, dan orang tersebut berhasil (bisa diterima menjadi bagian dari masyarakat tersebut), maka proses selanjutnya adalah bahasa akan digunakan setiap orang dalam masyarakat sebagai cara untuk melakukan kontrol sosial, yaitu bahasa akan dimobilisasi[13] oleh seseorang sebagai usaha untuk mempengaruhi pikiran dan tindakan orang. Hampir setiap hari, kegiatan kontrol sosil akan terjadi dalam masyarakat. Misalnya, orangtua yang menasihati anak-anaknya, kepala desa yang memberikan penerangan dan penyuuhan pada warganya, kegiatan rapat-rapat di desa, dan sebagainya.

D.    Ragam  Bahasa
           
Ragam bahasa berarti variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraannya (Alwi, dkk., 2003: 920).dengan melihat fungsi utama bahasa sebagai media komunikasi, maka pembahasan ragam bahasa difokuskan pada proses komunikasinya yang melibatkan penutur, bahasa, dan komunikannya.
Penuturnya: keragaman pembicara (penutur) dalam bahasa terjadi karena menurut patokan daerah, pendidikan, dan sikap penuturnya (Alwi, dkk., 2003: 3-5). Pertama, berdasarkan patokan daerah penuturnya, maka dapat dikenal adanya ragam daerah (dialek), yaitu ragam bahasa yang terjadi karena perbedaan daerah penuturnya. Kedua, berdasarkan pendidikan formal, ada perbedaan yang jelas dalam penggunaan bahasa antara kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak berpendidikan. Ketiga, menurut sikap penuturnya, yakni mencakup sejumlah bahasa indonesia yang masing-masing pada asas tersedia bagi setiap pemakai bahasa. Ragam ini, yang dapat disebut langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak bicara.
Berdasarkan situasi pembicaraan, ragam bahasa disesuaikan dengan situasi dan keadaan pembicaraan (komunikasi) terjadi. Oleh karena bahasa indonesia bersifat egaliter (terbuka), maka penggunaannya tergantung pada konteks atau situasi. Dalam hal ini, ada dua situasi pembicaraan: formal dan nonformal. Situasi pembicaraan formal adalah situasi pembicaraan yang bersifat resmi, situasi resmi ini menurut penutur untuk menggunakan bahasa yang resmi, yaitu bahasa indonesia yang baku. Sementara itu, situasi pembicaraan yang nonformal adalah situasi pembicaraan yang bersifat tidak resmi, yang terjadi karena hubungan-hubungaan pertemanan, kekerabatan, percandaan, dan sebagainya. Situasi ini menurut penuturnya bebas menggunakan bahasa-bahasa pertemanan dan pergaulan yang tidak resmi.
Bahasa: ragam bahasa berdasarkan pada bahasa sebagai sarananya terbagi atas ragam lisan dan ragam tulisan. Ragam lisan adalah variasi bahasa yang simbol-simbolnya dihasilkan oleh alat ucap manusia (ujaran), sedangkan ragam tulisan adalah ragam bahasa yang simbol-simbolnya berupa kode-kode bahasa yang tercetak dalam tulisan. Yang membedakan ragam lisan dengan tulisan, menurut Alwi, dkk (2003: 7-8), karena dua hal. Pertama, hubungan dengan suasana peristiwanya. Jika menggunakan sarana tulisan, seseorang beranggapan bahwa orang yang diajak berbahasa tidak dihadapannya. Akibatnya, bahasa dalam ragam tulisan harus lebih terang, jelas, dan eksplisit[14] karena dalam bahasa tulis tidak dapat disertai gerak isyarat, pandangan dan anggukan kepala sebagai tanda penegasan di pihak pembicara atau pemahaman dipihak pendengar. Kedua, berkaitan dengan tinggi rendahnya, panjang pendeknya kalimat, dan irama kalimat. Dalam bahasa lisan, aspek tinggi rendahnya, panjang pendeknya, dan irama kalimatnya nyata terdengar dengan jelas sehingga kalimat-kalimat yang diujarkan bisa dipahami. Sementara itu, dalam ragam tulisan, hal tersebut tidak dapat diidentifikasi sehingga penulisannya membutuhan tanda-tanda baca yang lengkap. Hal itu karena tanpa tanda baca yang lengkap dan benar, maka kalimat dalam ragam tulisan tidak dapat dipahami. Akan tetapi, yang perlu ditambahkan bahwa ragam tulisan juga mempunyai kelebihan sendiri, yaitu kaidah-kaidah dalam ragam tulisan, misalnya pemakaian huruf kapital, huruf miring, tanda kutip, dan paragraf, tidak mengenal padanan yang sama jelasnya dalam ujaran.

 III.            LOGIKA DAN BAHASA

Logika sangat terkait dengan konsep bahasa. Disisi sebaliknya, setiap bahasa memiliki logikanya sendiri. Bahasa yang disusun oleh sekelompok masyarakat  mengandung kekhasan dimana berbagai kultur-dalam arti luas-menjadi basis penbentukan bahasa tersebut. Inilah salah satu point yang harus dipertimbangkan, misalnya dalam proses penerjemahan satu pemikiran dari satu bahasa ke bahasa lain.

 IV.            Hubungan Logika dan Bahasa

Dapat dijelaskan bahwa hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika), akan tergantung dari baik-buruknya alat bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa sebagai alat logika harus memperhatikan perbedaan antara bahasa sebagai alat logika dan bahasa sebagai alat kesusasteraan.



ANALISIS

1.      Tugas dan Objek Logika

Tugas logika adalah memberikan penerangan bagaimana seharusnya orang berpikir (Poedjawiyatna, 1978:2). Sedang objek penyelidikan logika adalah manusia itu sendiri.
Tujuan mempelajari logika adalah memecahkan masalah atau mencari jawaban atas permasalahannya yang dapat dirumuskan: bagaimana seharusnya manusia dapat berpikir dengan baik dan benar.

2.      Logika dan Bahasa

Pengetahuan sebagai hasil proses tahu manusia baru tampak nyata
apabila dikatakan. Artinya diungkapkan dalam bentuk kata atau bahasa. Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu mengungkapkan maksud si penutur dengan setepat-tepatnya. Bahasa ilmu pengetahuan harus logis. Ilmu berarti pengetahuan-tahu, sebagai hasil proses berpikir harus mengikuti aturan-aturan, yaitu logika.





KESIMPULAN

Dalam logika, untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Syarat yang utama ialah mengumpulkan argumen-argumen. Kemudian argumen tersebut disusun secara logis akan terbukti kebenarannya. Sedangkan pada tata bahasa fungsi gramatikal berupa subjek, predikat, objek, dan keterangan. Sedangkan kategorinya adalah nomina (kata benda), verba (kata kerja), dan adjective (kata sifat). Sedangkan pada bagian peran mencakup peran gramatikal seperti peran agnetif (sebagai pelaku), pasien (sebagai penderita), objek (sebagai sasaran), benefaktif (sebagai kegiatan/melakukan pekerjaan terhadap orang lain), lokatif (sebagai tempat/lokasi), instrumental (sebagai alat), dan sebagainya.




PENUTUP

Dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, penulis perlu memberikan beberapa catatan akhir. Yaitu, bahwa antara logika dan bahasa mempunyai hubungan yang satu sama lain saling berkaitan atau membutuhkan, ketika seseorang mampu untuk berpikir dengan buah hasil dari berlogika, maka tahapan selanjutnya adalah bagaimana proses orang tersebut untuk menyampaikan yang dipikirnya melalui media bahasa sebagai alat yang paling sederhana dalam proses berkomunikasi antarmanusia. Demikian pula dengan bahasa, seseorang akan dapat berbahasa dengan baik dan benar ketika dalam berkomunikasi telah didasari dengan pemikiran yang dikuasai sebelumnya.



DAFTAR REFERENSI

Wachid, Abdul dan Heru Kurniawan. 2015. Kemahiran Berbahasa
Indonesia .Purwokerto: Kaldera Press.
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik umum. Jakarta: PT. Rineka cipta.
Keraf, Groys. 1997. Komposisi. Flores : Penerbit Nusa Indah.
Ullmann, Stephen. 2009. Pengantar Semantik. Diadaptasi oleh sumarsono.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Widjiono Hs. 2007. Bahasa Indonesia: Matakuliah Pengembangan
Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.
Adib, M. 2010. Filsafat Ilmu. Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu
Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mundiri. 2011. Logika. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Budiono. 2005. Kamus Ilmiah Populer Internasional. Surabaya : Alumni.


[1] Probability dalam kamus bahasa inggris dapat berarti sebagai suatu kemungkinan.
[2] Mundiri, Logika, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm: 15-16.
[3] Budiono, kamus ilmiah populer internasional, (surabaya: alumni surabaya, 2005), hlm. 148. Elegan berarti indah, rapi, penuh citarasa, anggun.
[4] Budiono, kamus ilmiah populer internasiona, (semarang: alumni semarang, 2005),  hlm. 138. Efisien berarti rapi, cermat,  paling sesuai dan tepat, hemat waktu (biaya, tenaga).
[5] Keraf, 1997: 1; Widjono, 2007: 14; Chaer, 1998: 1; dan Ullmann, 2009: 20.
[6] Budiono, kamus ilmiah populer internasiona,...hlm138. Efektif berarti tepat, manjur, mujarab, tepat guna, berhasil.
[7] Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), hlm 33-34.
[8] Konvensional berarti berdasarkan kondisi atau tatacara-tatacara, menurut atau secara adat kebiasaan, secara persepakatan atau persetujuan.
[9] Arbitrer berati sewenanag-wenang.
[10] Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), hlm 43.
[11] Wachid, abdul dan heru kurniawan, (purwokerto: kaldera press, 2015), hlm 8.
[12] Eksistensi dapat berarti keberadaan, wujud (yang tampak), adanya, suatu yang membedakan antara suatu benda dengan benda yang lainnya.
[13] Mobilisasi: pergerakan, penggerakan, perekrutan/penge-rahan orang-orang (untuk diwajib militer-kan).
[14] Eksplisit: jelas, terang, gamblang, dengan tegas.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan