I.
LOGIKA
A. Pengertian
Logika
Logika
adalah bahasa latin dari kata logos yang berarti perkataan atau sabda.
Istilah lain yang digunkan sebagai gantinya adalah mantiq, kata arab
yang diambil dari kata kerja nataqa yang berarti berkata atau berucap.
“Logika
adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk
membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah”.
Logika
ialah ilmu berpikir yang tepat, logika sekedar
menunjukkan adanya kekeliruan didalam rantai proses pemikiran sehingga kekeliruan itu dapat dielakkan, maka hakekat dari
logika dapat pula disebut sebagai teknik berpikir.
B. Sejarah
logika
Pada
masa penerjemahan ilmu-ilmu yunani kedalam dunia arab pada abad ke-2 hijriah, logika
merupakan bagian yang amat menarik minat kaum muslimin. Selanjutnya logika
dipelajari secara meriah dalam kalangan luas, menimbulkan berbagai pendapat
dalam hubungannya dengan masalah agama. Ibnu Salih dan Imam Nawawi menghukumi
haram mempelajari mantiq sampai mendalam. Al-Gazali menganjurkan dan menganggap
baik. Sedangkan menurut jumhur ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup
akalnya.
C. Pembagian
Logika
a. Macam-macam
Logika menurut The Liang Gie (1980) dalam Adib (2010: 102-104) :
1. Logika
dalam pengertian luas dan sempit
Dalam arti sempit logika dipakai
searti dengan logika deduktif atau logika formal. Sedangkan dalam arti luas,
pemakaiannya mencakup kesimpulan-kesimpulan dari berbagai bukti dan tentang
bagaimana sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam serta meliputi pula
pembahasan mengenai logika itu sendiri.
2. Logika
Deduktif dan Induktif
Logika Deduktif mempelajari
asas-asas penalaran yang bersifat deduktif, yakni suatu penalaran yang
menurunkan suatu kesimpulan sebagai kemestian dari pangkal pikirnya sehingga
bersifat betul menurut bentuknya saja. Sedangkan Logika Induktif mempelajari
asas-asas penalaran yang betul dari sejumlah hal khusus sempai pada kesimpulan
umum yang bersifat boleh jadi (probability)[1].
3. Logika
Formal (Minor) dan Material (Mayor)
Logika Formal atau disebut juga
Logika Minor mempelajari asas, aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus
ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran.
Sedangkan Logika Material atau Mayor mempelajari langsung pekerjaan akal serta
menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang
sesungguhnya, mempelajari sumber-sumber dan asalnya pengetahuan, alat-alat
pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu
pengetahuan itu.
4. Logika
Murni dan Terapan
Logika Murni merupakan
pengetahuan mengenai asas dan aturan logika yang berlaku umum pada semua segi
dan bagian dari pernyataan-pernyataan dengan tanpa mempersoalkan arti khusus
dalam sesuatu cabang ilmu dari istilah pernyataan yang dimaksud. Logika Terapan
adalah pengetahuan logika yang diterapkan dalam setiap cabang ilmu,
bidang-bidang filsafat, dan juga dalam pembicaraan yang menggunakan bahasa
sehari-hari.
5. Logika
Filsafati dan Matematik
Logika Filsafati merupakan ragam
logika yang punya hubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat,
seperti logika kewajiban dengan etika atau logika arti dengan metafisika.
Sedangkan Logika Matematik menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan
metode matematik serta bentuk lambang yang khusus dan cermat untuk mengindarkan
makna ganda.
b. Menurut
Mundiri[2]
(2011: 15-16) macam-macam logika antara lain :
1. Berdasarkan
segi kualitasnya, Logika/Mantiq dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu
Logika Naturalis (Mantiq al-Fitri) dan Logika Artifisialis/Ilmiah (Mantiq
As-Suri). Logika Naturalis (Mantiq al-Fitri) yaitu kecakapan
berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal dapat
bekerja secara spontan sesuai hukum-hukum logika dasar. Sedangkan Logika
Artifisialis/Ilmiah (Mantiq al-Suri) yang bertugas membantu Mantiq
al-Fitri. Mantiq ini memperhalus, mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran
agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.
2. Dilihat
dari metodenya, dibedakan atas Logika Tradisional (Mantiq al-Qadim) dan
Logika Modern (Mantiq al-Hadis). Logika Tradisional adalah Logika
Aristoteles, dan Logika dari pada Logikus yang lebih kemudian, tetapi masih mengikuti
sistem Logika Aristoteles. Para Logikus sesudah Aristoteles tidak membuat
perubahan atau menciptakan sistem baru dalam Logika kecuali hanya membuat
komentar yang menjadikan Logika Aristoteles lebih elegan[3]
dengan sekedar mengadakan perbaikan-perbaikan dan membuang hal-hal yang tidak
penting dari Logika Aristoteles. Logika Modern tumbuh dan dimulai abad XIII.
Mulai abad ini ditemukan sistem baru, metode baru yang berlainan dengan sistem
Logika Aristoteles. Saatnya dimulai sejak Raymundus Lullus menemukan metode
baru Logika yang disebut Ars magna.
D. Manfaat
Logika
Logika
membantu manusia berpikir lurus, efisien[4],
tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam
segala aktifitas berpikir dan bertindak manusia mendasarkan diri atas prinsip
ini.
II.
BAHASA
A.
Pengertian bahasa
Pengertian
bahasa secara umum adalah semua sarana
berupa isyarat-isyarat, bunyi-bunyi dan ujaran-ujaran untuk
mempertukarkan perasaan dan pikiran. Dalam pengertian istilah, bahasa memiliki
beberapa arti, diantaranya, bahasa menurut Bussman (2006: 627) adalah sarana
untuk (1) mengekspresikan atau mengemukakan pemikiran, konsep, pengetahuan dan
informasi dengan tepat dan (2) mentransmisikan pengalaman dan pengetahuan.
Bahasa
adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang
berfungsi untuk komunikasi antar anggota masyarakat yang konvensional[5].
Bahasa
merupakan alat berpikir yang apabila dikuasai dan digunakan dengan tepat, maka
akan dapat membantu kita memperoleh kecakapan berpikir, berlogika dengan tepat.
Dalam pembicaraan yang tidak penting sekalipun lawan bicara kita selalu
menuntut penjelasan yang logis.
Bahasa
memiliki peran yang sangat esensial dalam konteks logika dan berilmu. Ia sangat
membantu namun secara bersamaan juga dapat sangat mencelakakan, yaitu jika
penggunaannya tidak tepat. Kegiatan berilmu akan mati bila terjadi kekeliruan
penerapan bahasa di antara para penggiatnya. Ini karena bahasa bagi manusia
merupakan penrnyataan pikiran atau perasaan yang paling komunikatif. Gerak tubuh
dan mimik muka dapat menginformasikan sesuatu, namun sangat terbatas
penerapannya.
Bahasa
juga penting dalam pembentukan penalaran ilmiah, karena penalaran ilmiah
mempelajari bagaimana caranya menyusun uraian yang tepat dan sesuai dengan
pembuktian-pembuktian secara jelas. Untuk kelompok tertentu, agar komunikasi
diantara mereka lebih efisien dan efektif[6],
mereka menciptakan bahasa tersendiri. Mereka menciptakan dan menyepakati
kata-kata, baik kata yang diambi dari kata-kata yang sudah ada dalam kehidupan
sehari-hari, atau secara sengaja membuat kata-kata yang baru sama sekali.
Tanpa
bahasa manusia tidak mampu berpkir. Bahkan ketika masih “dalam kepalanya”,
sebelum diucapkan sekalipun, manusia sudah menggunakan bahasa. Ada tiga fungsi
bahasa yang utama, yaitu untuk mengkomunikasikan, mengekspresikan perasaan, dan
membangkitkan atau mencegah perilaku tertentu. Adakalanya ketiga fungsi ini
dapat dijalankan sekaligus, namun juga dapat terpisah, atau dua diantaranya.
Dalam dunia ilmiah, harus dihindari beberapa kesalahan (atau kesesatan), dimana
berbahasa secara tepat dan tidak emotif menjadi salah satu pedoman yang harus
dipatuhi. Hanya dengan bahasa yang netral, maka informasi yang disampaikan dapat diterima dengan tepat.
Ketrampilan
beragumen, terutama argumen deduktif, merupakan syarat pokok dalam berilmu.
Melalui nalar deduktif diperoleh kesimpulan (conclusion) sehingga dapat
menyimpulkan apakah sesuatu yang disampaikan dapat dinilai kebenarannya (benar
atau salah) dan kevalidannya (valid atau tidak valid).
B.
Karakteristik Bahasa
a. Bahasa
sebagai suatu sistem : artinya bahasa merupakan susunan teratur dan berpola,
yang membentuk keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Bahasa selalu terdiri
dari unsur-unsur atau komponen–komponen yang secara teratur tersusun menurut
pola tertentu, dan membentuk suatu kesatuan sebagai sistem, yang mau tidak mau harus diikuti oleh pemakainya[7].
b. Bahasa
sebagai lambang (simbol) : adalah hubungan antara suatu penanda (yang menandai)
dengan petanda (yang ditandai atau diberi tanda) yang bersifat konvensional[8]
dan arbitrer[9].
c. Bahas
sebagai bunyi : bunyi yang dimaksud adalah ujaran atau ucapan. Bahasa sebagai
bunyi karena pada sejarahnya bahasa yang digunakan manusia pertama kali adalah
bahasa lisan atau ucapan yang keluar dari alat ucap manusia, bukan bahasa tulisan.
Oleh karena itu, bahasa lisan (bunyi) merupakan bahasa primer, yaitu bahasa
yang pertama menjadi objek ilmu bahasa (linguistik), sedangkan bahasa tulis
adalah bahasa sekunder, yang lahir sebagai bentuk cara yang dilakukan manusia
untuk mendokumentasikan atau “merekam” bahasa lisan[10].
d. Bahasa
sebagai alat komunikasi : bahasa selalu digunakan oleh manusia sebagai media
untuk menyampaikan informasi (ide, gagasan, dan perasaan) pada orang lain.
Hampir dapat dikatakan, manusia dalam interaksi dengan manusia lainnya selalu
menggunakan bahasa. Dengan bahasa manusia bisa saling berinteraksi dan
berkomunikasi saling menyampaikan ide dan gagasannya.
C.
Fungsi Bahasa[11]
Menurut
gorys keraf (1997), bila ditinjau kembali sejarah pertumbuhan bahasa sejak awal
hingga sekarang, maka fungsi bahasa dapat diturunkan dari motif pertumbuhan
bahasa itu sendiri. Dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu dalam garis besarnya
dapat berupa :
a. Bahasa
untuk Menyatakan Ekspresi Diri
Ekspresi
diri berarti mengungkapkan segala hal yang dirasakan oleh pikiran dan perasaan
manusia. Dapat dipastikan, setiap ada gejolak dalam diri, manusia selalu akan
mengungkapkan dan mengekspresikannya dengan bahasa, baik verbal maupun
nonverbal. Misalnya, saat marah, sedih, dan bahagia selalu diekspresikan dengan
bahasa; bisa bercerita, menangis, berteriak, atau tersenyum.
Dalam
hal ini, menurut gorys keraf (1997:3), unsur bahasa yang mendorong manusia
mengekspresikan dirinya dengan bahasa adalah; 1) agar menarik perhatian orang
lain terhadap kita, yaitu bahasa digukanan sebagai alat untuk mencari perhatian
orang lain (pasif) terhadap hal-hal yang sedang dirasakan, dan 2) keinginan
manusia untuk membebaskan diri dari semua tekanan emosi. Pada sisi ini, bahasa
digunakan oleh manusia sebagai media untuk membebaskan diri dari
persoalan-persoalan dan tekanan hidup yang dialaminya.
b. Bahasa
untuk Alat Komunikasi
Bahasa
digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan diri yang disampaikan kepada orang
lain sehingga orang lain bisa merespon dan memberikan masukan-masukan atas
persoalan yang sedang dihadapi manusia. Tentu saja, respon berupa ide-pikiran
dimediasi dengan bahasa, maka terjadi kegiatan dialog. Kegiatan dialog (yang
dilakukan oleh minimal dua orang inilah) melahirkan komunikasi. Dengan
demikian, bahasa sebagai alat komunikasi merupakan fungsi bahasa yang bersifat
intra-personal karena bahasa digunakan sebagai alat untuk saling bertukar
pikiran dan perasaan antarmanusia.
c. Bahasa
untuk Mengadakan Integrasi dan Adaptasi Sosial
Jika
komunikasi itu melibatkan dua orang, maka integrasi dan adaptasi sudah
melibatkan banyak orang sehingga fungsi bahasa ini bersifat komunal (sosial).
Kenyataannya, manusia adalah makhluk sosial-masyarakat (kolektif) yang hidup
ditengah-tengah masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat inilah, manusia selalu
membetuhkan eksistensi[12]
untuk diterima dan diakui oleh masyarakatnya. Dalam pembentukan eksistensi
itulah, maka manusia akan melakukan integrasi (pembaruan) dan adaptasi
(penyesuaian diri) dalam masyarakat, dan selalu, dalam proses integrasi dan
adaptasi ini manusia selalu menggunakan bahasa sebagai perantaranya.
Dalam
proses ini, dengan bahasa, anggota masyarakat akan mengenal dan belajar
terhadap segala adat-istiadat, tingkah laku, dan tata krama masyarakatnya. Ia
mencoba menyesuaikan dirinya (adaptasi) dengan semuanya melalui bahasa sehingga
bila ia sudah dapat menyesuaikan diri (adaptasi), maka ia pun dengan mudah akan
berbaur (integrasi) dengan segala macam tata-krama masyarakat tersebut (Keraf,
1997:5).
d. Bahasa
untuk Mengadakan Kontrol Sosial
Bahasa
sebagai kontrol sosial masih merujuk fungsi
bahasa secara sosial-kolektif. Setelah bahasa digunakan seseorang untuk
beradaptasi dan berintegrasi dengan anggota masyarakatnya, dan orang tersebut
berhasil (bisa diterima menjadi bagian dari masyarakat tersebut), maka proses
selanjutnya adalah bahasa akan digunakan setiap orang dalam masyarakat sebagai
cara untuk melakukan kontrol sosial, yaitu bahasa akan dimobilisasi[13]
oleh seseorang sebagai usaha untuk mempengaruhi pikiran dan tindakan orang.
Hampir setiap hari, kegiatan kontrol sosil akan terjadi dalam masyarakat.
Misalnya, orangtua yang menasihati anak-anaknya, kepala desa yang memberikan
penerangan dan penyuuhan pada warganya, kegiatan rapat-rapat di desa, dan
sebagainya.
D.
Ragam Bahasa
Ragam
bahasa berarti variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut
topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang
yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraannya (Alwi, dkk., 2003:
920).dengan melihat fungsi utama bahasa sebagai media komunikasi, maka
pembahasan ragam bahasa difokuskan pada proses komunikasinya yang melibatkan
penutur, bahasa, dan komunikannya.
Penuturnya: keragaman
pembicara (penutur) dalam bahasa terjadi karena menurut patokan daerah,
pendidikan, dan sikap penuturnya (Alwi, dkk., 2003: 3-5). Pertama,
berdasarkan patokan daerah penuturnya, maka dapat dikenal adanya ragam daerah
(dialek), yaitu ragam bahasa yang terjadi karena perbedaan daerah penuturnya. Kedua,
berdasarkan pendidikan formal, ada perbedaan yang jelas dalam penggunaan bahasa
antara kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak berpendidikan. Ketiga,
menurut sikap penuturnya, yakni mencakup sejumlah bahasa indonesia yang
masing-masing pada asas tersedia bagi setiap pemakai bahasa. Ragam ini, yang
dapat disebut langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada
sikap penutur terhadap orang yang diajak bicara.
Berdasarkan
situasi pembicaraan, ragam bahasa disesuaikan dengan situasi dan keadaan
pembicaraan (komunikasi) terjadi. Oleh karena bahasa indonesia bersifat egaliter
(terbuka), maka penggunaannya tergantung pada konteks atau situasi. Dalam hal
ini, ada dua situasi pembicaraan: formal dan nonformal. Situasi
pembicaraan formal adalah situasi pembicaraan yang bersifat resmi, situasi
resmi ini menurut penutur untuk menggunakan bahasa yang resmi, yaitu bahasa indonesia
yang baku. Sementara itu, situasi pembicaraan yang nonformal adalah situasi
pembicaraan yang bersifat tidak resmi, yang terjadi karena hubungan-hubungaan
pertemanan, kekerabatan, percandaan, dan sebagainya. Situasi ini menurut
penuturnya bebas menggunakan bahasa-bahasa pertemanan dan pergaulan yang tidak
resmi.
Bahasa:
ragam bahasa berdasarkan pada
bahasa sebagai sarananya terbagi atas ragam lisan dan ragam tulisan. Ragam
lisan adalah variasi bahasa yang simbol-simbolnya dihasilkan oleh alat ucap
manusia (ujaran), sedangkan ragam tulisan adalah ragam bahasa yang
simbol-simbolnya berupa kode-kode bahasa yang tercetak dalam tulisan. Yang
membedakan ragam lisan dengan tulisan, menurut Alwi, dkk (2003: 7-8), karena
dua hal. Pertama, hubungan dengan suasana peristiwanya. Jika menggunakan
sarana tulisan, seseorang beranggapan bahwa orang yang diajak berbahasa tidak
dihadapannya. Akibatnya, bahasa dalam ragam tulisan harus lebih terang, jelas,
dan eksplisit[14] karena
dalam bahasa tulis tidak dapat disertai gerak isyarat, pandangan dan anggukan
kepala sebagai tanda penegasan di pihak pembicara atau pemahaman dipihak
pendengar. Kedua, berkaitan dengan tinggi rendahnya, panjang pendeknya
kalimat, dan irama kalimat. Dalam bahasa lisan, aspek tinggi rendahnya, panjang
pendeknya, dan irama kalimatnya nyata terdengar dengan jelas sehingga
kalimat-kalimat yang diujarkan bisa dipahami. Sementara itu, dalam ragam
tulisan, hal tersebut tidak dapat diidentifikasi sehingga penulisannya
membutuhan tanda-tanda baca yang lengkap. Hal itu karena tanpa tanda baca yang
lengkap dan benar, maka kalimat dalam ragam tulisan tidak dapat dipahami. Akan
tetapi, yang perlu ditambahkan bahwa ragam tulisan juga mempunyai kelebihan
sendiri, yaitu kaidah-kaidah dalam ragam tulisan, misalnya pemakaian huruf
kapital, huruf miring, tanda kutip, dan paragraf, tidak mengenal padanan yang
sama jelasnya dalam ujaran.
III.
LOGIKA DAN BAHASA
Logika sangat terkait dengan
konsep bahasa. Disisi sebaliknya, setiap bahasa memiliki logikanya sendiri.
Bahasa yang disusun oleh sekelompok masyarakat
mengandung kekhasan dimana berbagai kultur-dalam arti luas-menjadi basis
penbentukan bahasa tersebut. Inilah salah satu point yang harus
dipertimbangkan, misalnya dalam proses penerjemahan satu pemikiran dari satu
bahasa ke bahasa lain.
IV.
Hubungan Logika dan Bahasa
Dapat dijelaskan bahwa hasil yang
diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika), akan tergantung dari
baik-buruknya alat bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa sebagai alat logika
harus memperhatikan perbedaan antara bahasa sebagai alat logika dan bahasa
sebagai alat kesusasteraan.
1. Tugas
dan Objek Logika
Tugas
logika adalah memberikan penerangan bagaimana seharusnya orang berpikir
(Poedjawiyatna, 1978:2). Sedang objek penyelidikan logika adalah manusia itu
sendiri.
Tujuan
mempelajari logika adalah memecahkan masalah atau mencari jawaban atas
permasalahannya yang dapat dirumuskan: bagaimana seharusnya manusia dapat
berpikir dengan baik dan benar.
2. Logika
dan Bahasa
Pengetahuan
sebagai hasil proses tahu manusia baru tampak nyata
apabila dikatakan. Artinya diungkapkan dalam bentuk kata atau bahasa. Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu mengungkapkan maksud si penutur dengan setepat-tepatnya. Bahasa ilmu pengetahuan harus logis. Ilmu berarti pengetahuan-tahu, sebagai hasil proses berpikir harus mengikuti aturan-aturan, yaitu logika.
apabila dikatakan. Artinya diungkapkan dalam bentuk kata atau bahasa. Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu mengungkapkan maksud si penutur dengan setepat-tepatnya. Bahasa ilmu pengetahuan harus logis. Ilmu berarti pengetahuan-tahu, sebagai hasil proses berpikir harus mengikuti aturan-aturan, yaitu logika.
Dalam
logika, untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Syarat yang utama ialah
mengumpulkan argumen-argumen. Kemudian argumen tersebut disusun secara logis
akan terbukti kebenarannya. Sedangkan pada tata bahasa fungsi gramatikal berupa
subjek, predikat, objek, dan keterangan. Sedangkan kategorinya adalah nomina
(kata benda), verba (kata kerja), dan adjective (kata sifat). Sedangkan pada
bagian peran mencakup peran gramatikal seperti peran agnetif (sebagai pelaku),
pasien (sebagai penderita), objek (sebagai sasaran), benefaktif (sebagai kegiatan/melakukan
pekerjaan terhadap orang lain), lokatif (sebagai tempat/lokasi), instrumental (sebagai
alat), dan sebagainya.
Dari pembahasan-pembahasan
sebelumnya, penulis perlu memberikan beberapa catatan akhir. Yaitu, bahwa
antara logika dan bahasa mempunyai hubungan yang satu sama lain saling
berkaitan atau membutuhkan, ketika seseorang mampu untuk berpikir dengan buah
hasil dari berlogika, maka tahapan selanjutnya adalah bagaimana proses orang
tersebut untuk menyampaikan yang dipikirnya melalui media bahasa sebagai alat
yang paling sederhana dalam proses berkomunikasi antarmanusia. Demikian pula
dengan bahasa, seseorang akan dapat berbahasa dengan baik dan benar ketika
dalam berkomunikasi telah didasari dengan pemikiran yang dikuasai sebelumnya.
Wachid, Abdul dan Heru Kurniawan.
2015. Kemahiran Berbahasa
Indonesia .Purwokerto:
Kaldera Press.
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik
umum. Jakarta: PT. Rineka cipta.
Keraf, Groys. 1997. Komposisi.
Flores : Penerbit Nusa Indah.
Ullmann, Stephen. 2009. Pengantar
Semantik. Diadaptasi oleh sumarsono.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Widjiono Hs. 2007. Bahasa
Indonesia: Matakuliah Pengembangan
Kepribadian di Perguruan Tinggi.
Jakarta: Grasindo.
Adib, M. 2010. Filsafat Ilmu.
Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu
Pengetahuan.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Mundiri. 2011. Logika.
Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Budiono. 2005. Kamus Ilmiah
Populer Internasional. Surabaya : Alumni.
[1] Probability dalam kamus bahasa
inggris dapat berarti sebagai suatu kemungkinan.
[3] Budiono, kamus ilmiah populer
internasional, (surabaya: alumni surabaya, 2005), hlm. 148. Elegan berarti
indah, rapi, penuh citarasa, anggun.
[4] Budiono, kamus ilmiah populer
internasiona, (semarang: alumni semarang, 2005), hlm. 138. Efisien berarti rapi, cermat, paling sesuai dan tepat, hemat waktu (biaya,
tenaga).
[5] Keraf, 1997: 1; Widjono, 2007: 14; Chaer,
1998: 1; dan Ullmann, 2009: 20.
[6] Budiono, kamus ilmiah populer
internasiona,...hlm138. Efektif berarti tepat, manjur, mujarab, tepat guna,
berhasil.
[7] Chaer, Linguistik Umum,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), hlm 33-34.
[8] Konvensional berarti berdasarkan
kondisi atau tatacara-tatacara, menurut atau secara adat kebiasaan, secara
persepakatan atau persetujuan.
[9] Arbitrer berati sewenanag-wenang.
[11] Wachid, abdul dan heru kurniawan, (purwokerto:
kaldera press, 2015), hlm 8.
[12] Eksistensi dapat berarti
keberadaan, wujud (yang tampak), adanya, suatu yang membedakan antara suatu
benda dengan benda yang lainnya.
[13] Mobilisasi: pergerakan, penggerakan, perekrutan/penge-rahan orang-orang
(untuk diwajib militer-kan).

0 komentar:
Posting Komentar
Silakan