Konsepsi tentang Islam dilandasi
dengan basis ketauhidan yang dilabelkan sebagai agama samawi atau monoteisme.
Ketauhidan merupakan cara pandang untuk melihat seluruh dunia sebagai sistem
yang utuh, menyeluruh dan harmonis, yang melampui batas-batas dikotomi, lalu
diorientasikan dalam tujuan ilahi yang sama. Murtadha Mutahhari pun menyebutnya
sebagai pandangan dunia tauhid.
Maka, Islam sebagai agama tauhid
perlu kiranya untuk bisa menjawab persoalan-persoalan duniawi (politik, sosial
dan ekonomi) sekaligus ketuhanan. Tidak lagi diartikan pada tataran formalitas
ritual belaka. Hassan Hanafi, salah satu tokoh kontemporer yang dikenal dengan
Kiri Islamnya, menganjurkan agar Islam menjadi agama yang transformatif dan
memiliki manfaat praksis bagi peradaban manusia. Menurutnya,
Islam bukan sebagai institusi
penyerahan diri yang membuat kaum muslimin menjadi tidak berdaya dalam
menghadapi kekuatan arus perkembangan masyarakat, tetapi Islam merupakan sebuah
basis gerakan ideologis populistik yang mampu membebaskan manusia dari
belenggu-belenggu penindasan. Pembebasan kaum tertindas merupakan wujud perjuangan
kemanusiaan yang tertinggi dalam Islam. Ia menjadi ukuran nilai kehidupan
manusia atau setidaknya usaha menjalani hidup didunia untuk semakin menjadi
manusia.
Berbicara tentang Teologi Pembebasan,
adalah sebuah paham tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial.
Dengan kata lain paham ini adalah suatu usaha kontekstualisas iajaran-ajaran
dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya dan sebagai respon
terhadap situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat. Teologi
pembebasan dalam Islam merupakan istilah yang baru muncul diakhir abad 20 M.
Namun keberadaannya secara esensial, telah ada sejak lahirnya Islam. Sebab,
kelahiran Islam untuk membebaskan umat manusia dari belenggu penindasan
(membela kelompok yang tertindas).
Mengangkat derajat kaum hawa,
memperjuangkan kelas bagi kaum budak untuk merdeka, merombak sistem tradisi
yang jahil (mengubur hidup-hidup bayi perempuan, dll). Istilah teologi
pembebasan lahir setelah muncul wacana Marxis sebagai bentuk perjuangan kelas
kaum proletar dari sistem yang dibangun oleh kaum borjuis, namun perjuangan
kelas disini antara wacana Marxis dengan teologi pembebasan tidaklah sama,
karena bagaimanapun juga teologi pembebasan berpegang pada tauhid, sementara
Marxisme tak mengenal tauhid. Paham ini lahir (teologi pembebasan) untuk
merombak paradigma berfikir mayoritas masyarakat muslim yang selalu menempatkan
tuntutan syara’i dalam teks nash yang hanya dijadikan sebagai rutinitas agama
(sebatas aturan fiqih), bukan menjadi suatu sistem keyakinan (tauhid/aqidah)
yang dapat menginspirasi umat islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tataran amr ma’ruf nahi mun’kar
misalnya, selama ini landasan tersebut hanya diimplemtasikan dalam tatanan
fiqih (sholat, puasa, shadaqah, dan lain sebagainya), sementara esesial dari
tatanan fiqih tersebut tidak terimplementasikan dalam ranah sosial.
Padahal menurut Asghar Ali Engineer,
salah satu tokoh yang memaparkan Islam sebagai teologi pembebasan mengatakan
bahwa, teologi pembebasan lahir untuk mengambil peran dalam membela kelompok
tertindas, baik ketertindasan dalam hal religius atau politik dan penindasan
ini dapat terlihat dalam tatanan sosial (strafikasi kelas) dan ekonomi.
Mengacu pada persoalan diatas, maka
selayaknya Islam harus mentransformasikan dirinya untuk perubahan sosial. Islam
tidak hanya menekan pada formalitas ibadah ritual belaka, tanpa menghiraukan
tatanan sosial seperti keadilan dan kemanusiaanan. Islam juga sebagai ideologi
yang revolusioner sebagai wujud pembelaan diri dari berbagai penindasan. Sudah
menjadi keharusan Islam menjadi sebuah sistem keyakinan (tauhid) yang menjiwai
setiap muslim untuk melawan berbagai penindasan dan membebaskan manusia dari
keterasingan dengan menjadikan teologi pembebasan sebagai metode gerakannya.
Asghar Ali Engineer, penulis dan
aktivis Islam progresif asal India, yang menghembuskan napas terakhirnya.
Sebagaimana kata pepatah, manusia mati meninggalkan nama, begitupun juga
Engineer. Pemikir yang terkenal dengan kontribusinya pada studi Islam dan
gerakan progresif ini, meninggalkan begitu banyak buah pemikiran yang membahas
berbagai topik: dari sejarah Islam, teologi pembebasan, studi konflik etnis dan
komunal, analisa gender, studi pembangunan dan masih banyak lagi.
Sebagai bagian dari apresiasi atas
kontribusi Asghar Ali Engineer yang begitu besar bagi dunia Islam,
negara-negara dunia ketiga, dan gerakan progresif pada umumnya, tulisan ini
didedikasikan untuk mengulas pemikiran-pemikiran Engineer dan relevansinya di
masa kini.Dikarenakan banyaknya jumlah dan luasnya cakupan karya-karya
Engineer, adalah mustahil untuk membahasnya secara mendetail. Oleh karena itu,
saya akan fokus kepada beberapa tema utama dalam pemikiran Engineer, yaitu
sejarah Islam, teologi pembebasan, negara dan masyarakat dan studi
konflikkomunal.Sekilas tentang Asghar Ali EngineerAsghar Ali Engineer lahir di
Salumbar, Rajasthan, pada 10 Maret 1939.
Ayahnya, Shaikh Qurban Hussain,
adalah seorang ulama di komunitas Muslim Dawoodi Bohra, sebuah cabang dari
tradisi Isma’ili dalam Islam Syi’ah. Komunitas Dawoodi Bohra pada masa awal
perkembangannya sempat mengalami persekusi baik dari komunitas Sunni maupun
Syiah arus utama, sebelum kemudian mereka bermigrasi ke India dan aktif dalam
dunia perdagangan dan proyek-proyek komunitas dan filantropis, seperti
pembangunan sekolah, rumah sakit, perumahan dan fasilitas umum lainnya, seminar
dan berbagai program pendidikan komunitas, serta promosi kesenian dan
arsitektur Islam.
Dalam konteks inilah Engineer tumbuh.
Sedari kecil, Engineer juga menekuni studi Islam dari berbagai aspeknya. Sebelum
memfokuskan dirinya pada dunia pemikiran dan aktivisme, Engineer berprofesi
sebagai insinyur di kota Mumbai selama 20 tahun. Kebetulan, sewaktu kuliah, ia
mengambil jurusan teknik sipil di Universitas Vikram. Latar belakang inilah
yang menyebabkan ia mendapat julukan ‘Engineer.’ Selama karirnya, ia mendirikan
dan mengepalai sejumlah lembaga yang bergerak dalam penyebaran ide-ide
progresif, seperti Institute of Islamic Studies, Center for Study of Society
and Secularism dan Asian Muslim Action Network, dan menjadi editor sejumlah
jurnal sepertiIndian Journal of Secularism, Islam and Modern Agedan Secular
Perspective.
Tidak hanya itu, Engineer adalah
seorang pemikir yang amat produktif, menulis lebih dari 50 buku dan ratusan
artikel lainnya, baik populer maupun ilmiah. Semasa hidupnya, ia juga aktif
mempromosikan penghargaan atas keberagaman masyarakat di India. Atas
dedikasinya terhadap perubahan sosial, ia dianugerahi Rights Livelihood Award pada
tahun 2004, yang juga disebut sebagai hadiah Nobel alternatif. Islam dan
Teologi Pembebasan menurutAsghar Ali Engineer dalam kajian sejarah Islam dan
teologi pembebasan, kita dapat melihat pokok-pokok pemikiran Engineer dalam
salah satu karyanya Islam and Its Relevance to Our Age (1987).
Di sini, sebagaimana diungkapkan oleh
para pengkaji karya Engineer dan Engineer sendiri, kita juga dapat melihat
pengaruh Marxisme dalam analisa Engineer mengenai sejarah Islam dan konsepsinya
tentang teologi pembebasan. Menurut Engineer, kedatangan Islam di jazirah Arab
merupakan sebuah momen yang revolusioner. Perlu diingat, bahwa terdapat banyak
kontradiksi dalam masyarat Arab pra-Islam waktu itu: di satu sisi, masyarakat
Arab pra-Islam memiliki tradisi kesusastraan dan perdagangan yang kuat, namun,
di sisi lain, terdapat perbagai penindasan atas berbagai kelompok dalam
masyarakat tersebut – seperti perempuan, kelas bawah dan para budak.
Yang revolusioner dari ajaran Nabi
Muhammad SAW adalah tuntutan-tuntutannya yang bersifat egalitarian: seruan atas
tatanan sosial yang egaliter baik dalam ritual (seperti shalat dan zakat),
kehidupan sosial (penghapusan perbudakan secara perlahan-lahan),
ekonomi-politik (penentangan atas akumulasi kekayaan dan monopoli ekonomi oleh
sejumlah pedagang besar yang bersifat eksploitatif) dan hubungan antar agama
(dengan para penganut agama lain). Tetapi, seruan revolusioner yang universal
dari Al-Qur’an ini juga tidak melupakan konteks sosial masyarakat Arab
pra-Islam waktu itu: penghapusan perbudakan misalnya, dilakukan secara gradual.
Di sini, kita dapat melihat sebuah
pola pembacaan yang menarik dari Engineer: ada unsur teologis dan transedental
dari sejarah munculnya Islam, namun ia tidak menegasikan atau menafikan peranan
manusia dalam membuat sejarah itu. Pembacaan ‘materialis’ atas sejarah Islam
ini juga mempengaruhi rumusan Engineer mengenai teologi pembebasan.Engineer
memulai pembahasannya mengenai sejarah sosial berbagai variasi teologi
pembebasan dalam Islam.
Saya menyebutnya sebagai ‘sejarah
sosial’ karena Engineer tidak hanya membahas pemikiran berbagai aliran teologis
dalam Islam namun juga berusaha mengaitkannya dengan konteks sosial-politik di
mana aliran atau mazhab tersebut muncul. Sejumlahaliran teologi yang dibahas
oleh Engineer antara lain adalah Mu’tazilah, Qaramitah dan Khawarij.
Alirah Mu’tazilah muncul di masa
kenaikan Kekhalifahan Abbasiyah yang menantang Kekhalifan Umayyah yang mulai
bersifat eksploitatif dan opresif. Kehalifahan Abbasiyah mendapat dukungan
‘dari bawah’ dari rakyat, terutama kelompok-kelompok non-Arab ,dan ‘dari atas’,
terutama dari para elit kelompok Persia.
Karenanya, di masa awal perkembangan
Kekhalifahan Abbasiyah, iklim pemerintahannya cenderung lebih terbuka dan
inklusif: cendekiawan Persia diakomodir dalam kekuasaan, penerjemahan
karya-karya sains dan filsafat dari Yunani dan India dipromosikan dan hak-hak
masyarakat non-Arab lebih diakomodir. Dalam konteks inilah, aliran Mu’tazilah,
yang mempromosikan teologi rasional dan peranan usaha (ikhtiyar) serta
kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya.
Qadariyah, muncul. Ironisnya, ketika
Kekhalifahan Abbasiyah mulai bersifat opresif dan mempersekusi lawan-lawan
politiknya, aliran Mu’tazilah kemudian dijadikan dogma: aliran Mu’tazilah
dijadikan paham teologi resmi negara oleh Khalifah Al-Ma’mun, dan mereka yang
menolak atau mengkritisi beberapa ajaran dari Mu’tazilah tidak hanya dicap
‘sesat’ namun juga ‘pembangkang’ terhadap pemerintah dan dihukum.
Imam Hambali, pendiri Mazhab Hambali, bahkan
tidak luput dari hukuman ini. Aliran Qaramitah juga muncul dalam konteks
penentangan atas Kekhalifahan Umayyah. Aliran Qaramitah berasal daritradisi
Isma’ili dalam Syi’ah, yang juga terpengaruh oleh ide-ide kebebasan manusia ala
Mu’tazilah dan filsafat Yunani dalam perlawanannya atas Kekhalifahan Umayyah.
Kelompok Isma’ili bahkan tetap melanjutkan perlawanannya di masa Kekhalifahan
Abbasiyah yang mulai menampakkan tendensi opresifnya. Namun, dalam
perkembangannya, kelompok Isma’ili kemudian mendirikan Kekhalifahannya sendiri,
Kekhalifahan Fatimiyah, memberi justifikasi terhadap politik ekspansi imperium.
Aliran Qaramitah adalah ‘pecahan’
dari kelompok Isma’ili yang tetap berkomitmen terhadap politik revolusioner dan
melawan baik Kekhalifahan Abbasiyah maupun Kekhalifahan Fatimiyah. Bahkan,
aliran Qaramitah berusaha menghapuskan kepemilikan pribadi dan mengorganisir
berbagai komune. Salah satu tokoh sufi terkemuka, Al-Hallaj, juga merupakan
anggota dari aliran Qaramitah yang kemudian dihukum mati oleh Kekhalifahan
Abbasiyah dengan tuduhan konspirasi untuk menjatuhkan rejim.
Aliran Khawarij, yang awalnya adalah
pendukung Khalifah Keempat dalam Islam, Ali bin Abi Thalib, yang kemudian
membangkang, lebih terkenal dengan doktrinnya ‘tidak ada hukum kecuali hukum
Tuhan’, memiliki kebiasaan untuk mengkafirkan kelompok Islam laindi luar mereka
dan aksi-aksi teroristiknya. Namun, terlepas dari perkembangannya di kemudian
hari, menurut Engineer, aliran Khawarij sesungguhnya merupakan ekspresi politik
dari kelompok Arab Badui, kaum ‘proletariat internal’ dalam Islam, mengutip
istilah Toynbee, dalam menanggapi krisis kepemimpinan dalam masyarakat Muslim
pada waktu itu. Mengutip Mahmud Isma’il, menurut Engineer, aliran atau faksi
Khawarij sesungguhnya mempromosikan semangat keadilan kolektif yang
terpinggirkan di tengah pertarungan politik seputar kepemimpinan atas
masyarakat Muslim. Singkat kata, dalam eksplorasinya atas sejarah awal Islam
dan sejarah sosial teologi pembebasan dalam Islam, Engineer berusaha
menunjukkan beberapa hal.
Pertama,ada tradisi dan kesinambungan
sejarah teologi pembebasan dari masa awal Islam hingga sekarang. Kedua,pembacaan
‘materialis’ dan ‘sejarah sosial’ atas masyarakat Islam membantu kita lebih
memahami potensi ide-ide egalitarian dalam Islam dan relevansinya bagi
masyarakat modern – tanpa memahami konteks sejarah ini, tentu kita akan merasa
aneh melihat pembahasan atas aliran Mu’tazilah yang rasional dan aliran
Khawarij yang ekstrimis dalam satu tarikan napas. Ketiga,dan yang paling utama,
Engineer kemudian menawarkan rumusannya atas teologi pembebasan dalam Islam:
dalam pertentangan antara kaum Mustakbirin (penindas) dan Mustadh’afin
(tertindas), maka agama harus berpihak kepada mereka yang tertindas demi
mewujudkan tatanan sosial yang egaliter dan bebas dari eksploitasi. Isu-isu
Kontemporer dalam Pandangan Asghar Ali Engineer Sebagai aktivis sosial,
Engineer juga aktif dalam berbagai mempelajari isu-isu kontemporer seperti
hubungan agama-negara, hak-hak perempuan da nkaum minoritas, isu-isu
pembangunan dan hubungan antar etnis.
Di waktu kecil, Engineer sendiri
sempat mengalami diskriminasi sebagai seorang Muslim. Agaknya, pengalaman itu
juga yang membentuk pandangan Engineer mengenai berbagai isu kontemporer.
Benang merah yang menyatukan pandangan Engineer atas isu-isu tersebut adalah
pentingnya menghindari esensialisme alias kecenderungan untuk melihat fenomena
sosial sebagai kesatuan yang monolitik. Dalam tulisannya tentang hak-hak perempuan dalam Islam (2006),
Engineer menyadari bahwa ada diskriminasi dan marginalisasi atas hak-hak
perempuan dalam masyarakat Islam.
Namun, Engineer juga berhati-hati di
sini: patriarkhi dan pengekangan hak-hak perempuan bukanlah sesuatu yang unik
yang melekat pada masyarakat Islam. Dengan kata lain, bukan Islamnya, melainkan
patriarkhinya yang bermasalah. Patriarkhi, menurut Engineer, terjadi karena
kenyataan sosiologis dalam perkembangannya seringkali dianggap sebagai konsep
atau doktrin teologis.
Kesimpulan yang sama dapat kita lihat
dalam analisanya mengenai hubungan agama-negara (2009). Engineer mengingatkan
bahwa institusi keagaaman bukanlah institusi yang serta merta suci; ia tidak
terlepas dari berbagai kepentingan ‘duniawi.’ Engineer juga menyerukan
pentingnya ‘mengembangkan kritik yang jujur atas otoritarianisme dalam sejarah
kaum Muslim’ Karenanya, meskipun Engineer mempromosikan nilai-nilai agama dalam
bentuknya yang paling spiritual sekaligus paling progresif, ia juga kritikus
terdepan atas berbagai bentuk politisasi dan fundamentalisme agama, baik di
negerinya sendiri, India, maupun di negara-negara berpenduduk Muslim lain seperti
Pakistan.
Posisi Engineer mengenai hubungan agama-negara
dan hak-hak kaum minoritas mengingatkan atas ide ‘toleransi kembar’ (twin
tolerations) yang dipromosikan oleh Alfred Stepan (2000), yaitu ada perbedaan
antara otoritas keagamaan dan politik sekaligus kebebasan bagi otoritas
keagamaan untuk menyebarkan idenya dan mempengaruhi pengikutnya tanpa memegang
kekuasaan politik secara langsung. Agaknya, posisi Engineer tidaklah jauh
berbeda dengan ide ini.
Bidang lain yang sangat ditekuni oleh
Engineer adalah studi konflik dan hubungan antar etnis. Engineer tidak hanya
menulis artikel reguler di harian Economic and Political Weeklymengenai kondisi
hubungan antar etnis di India, namun juga melakukan studi yang mendalam atas
berbagai komunitas minoritas termasuk komunitas Muslim di India. Dalam
studi-studinya, Engineer berusaha memperlihatkan kapasitasnya sebagai seorang
ilmuan.
Pertama,ia berusaha menggabungkan
metode-metode sejarah dan antropologis dalam berbagai studinya tentang kelompok
minoritas. Kedua,dalam melakukan studinya ia berkolaborasi dengan berbagai
institusi dan ilmuwan-aktivis yang lain. Ketiga, studi yang mendalam ini juga
dijadikan ‘senjata’ bagi Engineer untuk mempromosikan harmoni, toleransi dan
pengertian dalam hubungan antar etnis.
Prinsip-prinsip ini dapat dilihat misalnya dalam studinya tentang komunitas Muslim
di Gujarat (1989).
Sekali lagi, benang merah yang menyatukan
berbagai studi Engineer tentang komunitas Muslim dan minoritas adalah
pandangannya yang anti-esensialis: Engineer menunjukkan bahwa terdapat
keberagaman yang begitu luar biasa dalam komunitas Muslim, dan, komunitas
Muslim tidaklah kurang kadar ‘keIndiaan’nya dibandingkan komunitas dan kelompok
etnis yang lain. Bukan kebetulan jika Engineer juga mendukung ‘nasionalisme
campuran’ alih-alih nasionalisme Muslim ala Liga Muslim yang dipandangnya agak
sektarian. Ia menyatakan kekagumannya terhadap Jami’atul Ulama ‘il-Hindi,
sebuah organisasi Muslim yang mendukung perjuangan kemerdekaan India dan
integrasi masyarakat Muslim ke dalam masyarakat India.
Terakhir, Engineer juga merupakan
seorang kritik atas praktek-praktek pembangunan yang eksploitatif. Ia misalnya,
mengkritik rejim Jendral Zia-ul-Haq di Pakistan yang mempromosikan ‘Islamisasi’
dalam artiannya yang sempit namun menolak program-program nasionalisasi
sektor-sektor ekonomi strategis, reformasi pertanahan dan kebijakan-kebijakan
lainyang bersifat redistribusionis.
Di India, secara konsisten ia juga menolak
politik sayap kanan yang dipromosikan oleh Partai BJP yang mempromosikan
fundamentalisme Hindu di satu sisi dan kebijakan neoliberal di sisi
lain.Penutup: Engineer dan Kita Melihat kiprah Asghar Ali Engineer, kiranya tak
berlebihan apabila kita memberinya label ini: intelektual organik.Dedikasi dan
komitmen Engineer tentu bukan tanpa resiko.
Beberapa kali ia mendapat ancaman dan
kritik dari lawan-lawannya dan mereka yang tidak menyukai gagasannya. Namun, ia
tetap menulis, bekerja dan melawan. Ketika nasib masyarakat makin mengenaskan,
penguasa makin lalai dan para intelektual hanya doyan berdiskusi, warisan
Engineer terasa semakin relevan.
Daftar
Pustaka
.Engineer, A. A. (2009). Governance
and Religion: An Islamic Point of View. In C. Muzaffar,Religion and Governance (pp.
109-119). Selangor Darul Ehsan: Arah Publications.
Engineer, A. A. (1987).Islam and Its
Relevance to Our Age.Kuala Lumpur: Ikraq.
Engineer, A. A. (1989).The Muslim
Communities of Gujarat.Delhi: Ajanta Publications.
Engineer, A. A. (2006). The Rights of
Women in Islam. In A. I. Alwee, & M. I. Taib,Islam, Religion and Progress:
Critical Perspective(pp. 161-177). Singapore: The Print Lodge Pte. Ltd
Engineer, A. A. (2009). Islam dan Pluralisme.
In D. Effendi, Islam dan Pluralisme Agama(pp. 25-41). Yogyakarta : Interfidei.Stepan,
A. C. (2000). Religion, Democracy, and the “Twin Tolerations”.Journal of
Democracy, 11 (4), 37-57.
Mahasiswa Penggiat forum kajian LSC
(Lingkar Study Ciputat)

0 komentar:
Posting Komentar
Silakan